"15 November gas mulai mengalir ke PLTGU Muaratawar," kata Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (29/10/2011).
Menurutnya, mekanisme pendistribusian gas sudah lancar dan tidak bermasalah. Sehingga pada tanggal yang ditentukan gas akan mengalir seperti dalam kesepakatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya pasokan gas ini, maka PLN dapat memangkas penggunaan BBM untuk kebutuhan pembangkitnya. Sehingga dana triliunan Rupiah bisa dihemat atas pembelian BBM. Rencananya, PLN akan membayar gas yang dipasok ke PLTGU Muara Tawar dengan harga US$ 9 per bbtud.
Untuk diketahui, gas sebanyak 40 mmscfd tersebut merupakan gas yang dipasok ke dalam negeri bagi PLN. Hal ini didapatkan melalui mekanisme swap gas kepada Singapura.
Karena sebelumnya, terdapat kontrak gas dari Sumatera di lapangan Gajah Baru yang dikelola Premier sebanyak 100 mmcfd ke Singapura. Namun pihak Premier sendiri harus memproduksi lapangan yang dikelolanya sebanyak 140 mmcfd agar lebih ekonomis. Mengingat lapangan yang dikelolanya memproduksi gas sebesar itu.
Maka itu, sebanyak 40 mmscfd disepakati untuk dipasok ke dalam negeri bagi PLN di wilayah Batam. Namun karena infrastruktur PLN untuk menyerap gas tersebut tidak memadai, gas 40 mmscfd yang tersisa dihasilkan Premier di Gajah Baru terpaksa ditahan.
Maka itu dilakukan proses swap gas. 140 mmcfd dari Gajah Baru tetap dipasok ke Singapura seluruhnya. Sedangkan ada lapanga gas yang berlokasi di Sumatera dan dikelola ConocoPhilips memiliki kontrak ekspor gas kepada Singapura berkisar 300 mmscfd.
Sehingga, melalui proses swap gas, gas yang diekspor ConocoPhilips ke Singapura dipotong 40 mmscfd dan itulah yang dipasok ke PLN ke Jawa Barat, untuk PLTU Muara Tawar.
(nrs/ang)











































