Demikian disampaikan oleh Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto kepada detikFinance, Selasa (8/11/2011).
"Tentu saja (konsumsi BBM subsidi) terus meningkat karena pemerintah dan BPH Migas sendiri tidak kunjung melakukan kebijakan konkret untuk mengendalikannya," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah juga tidak berani menaikkan harga BBM subsidi, sementara pembatasan konsumsi BBM subsidi selalu maju mundur dan tidak ada ketegasan serta kepastian.
"Menggalakkan penggunaan energi alternatif seperti BBG (gas) dan BBN (nabati) juga tidak. Jika dibiarkan seperti itu terus kita tinggal menunggu saja konsumsi BBM subsidi makin tidak terkendali dari wktu ke waktu dan subsidi BBM membengkak," kata Pri Agung.
Padahal, kata Pri Agung, faktor pendorong tingginya konsumsi BBM subsidi ini sudah jelas. Pertama pertumbuhan kendaraan yang jumlahnya terus meningkat. Lalu harga BBM subsidi yang relatif murah, serta penyalahgunaan BBM subsidi yang akan makin sulit diatasi karena besarnya perbedaan atau disparitas harga antara BBM subsidi dan BBM non subsidi.
"Jadi pemerintah mestinya ya segera menerapkan kebijakan konkret yang bisa menyelesaikan masalah ketiganya. Jangan terus menerus memilih populis saja," tukas Pri Agung.
Sebelumya Ketua Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Tubagus Haryono mengatakan peningkatan konsumsi terutama disebabkan karena peningkatan jumlah kendaraan motor yang signifikan.
"Berdasarkan realisasi sampai Oktober 2011, terjadi peningkatan konsumsi yang disebabkan karena kenaikan jumlah kendaraan motor yang signifikan," kata Tubagus.
Berikut Realisasi konsumsi yang tercapai untuk tiap jenis BBM Bersubsidi dan peningkatannya dibandingkan tahun sebelumnya:
- Premium: 21.022.582 KL (naik 10,74%)
- Minyak Tanah: 1.462.406 KL (turun 27,23%)
- Solar: 11.941.983 KL (naik 11,97%)
- Total: 34.426.971 KL (naik 8,74%)
Untuk realisasi dari Januari hingga Oktober 2011, terhadap kuota APBN-P 2011 yang dikonsumsi sejauh ini mencapai 85,67% untuk Premium, 81.24% untuk Minyak Tanah, dan 84,37% untuk Solar. Sedangkan totalnya sudah mencapai 85,02%.
(dnl/ang)











































