"Untuk minyak saja, produksi kita sekarag baru mencapai rata-rata kisaran 910.000 barel per hari. Ini kondisinya sama seperti tahun 1971. Namun bedanya di tahun 1971 populasi Indonesia masih sedikit dan yang memiliki kendaraan hanya seberapa. Sekarang, bayangkan saja yang punya kendaraan sudah 12 juta orang. Dengan produksi minyak sekarang yang masih sama dan cenderung decline (menurun)," kata Dirgo Purbo, selaku analis energy security pada acara diskusi Sindo Hot Topic di Oh La La cafe, Jakarta, Senin (14/11/2011).
Menurutnya dengan adanya fakta seperti itu namun pemerintah tak melakukan perubahan apa-apa dalam menyikapi soal subsidi minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pemerintah terlalu baik, dengan terus memberikan subsidi kepada masyarakat untuk kebutuhan energi seperti bahan bakar minyak. Padahal sejauh ini kebijakan memberlakukan distribusi BBM Bersubsidi masih sering tidak tepat sasaran. Belum lagi, konsumsi masyarakat terhadap BBM Bersubsidi semakin tinggi setiap tahun.
"Kalau dibilang kebijakan pro rakyat, sekarang kita lagi menikmati apa yang diberi pemerintah. BBM Subsidi sampai akhir tahun sepertinya tidak akan naik (harganya). Agak sulit memberi segmentasi, untuk kebijakan energi pro rakyat ini, apakah orang kaya yang disubsidi apa orang tidak mampu sudah cukup disubsidi," terangnya.
Namun, untuk berikutnya, Dirgo mengatakan pemerintah supaya harus lebih memahami lebih dalam terkait permasalahan energy security. Pemerintah harus memahami, apakah kebijakan energi yang dilakukan kepada masyarakat sejauh ini sudah availability (ada), affordability (terjangkau harganya), dan accesibility (dapat diakses) atau belum.
"Sekarang pemerintah masih mensubsidi penuh untuk Premium atau Solar, tapi di beberapa daerah justru barangnya tidak ada. Sekarang nelayan tidak bisa mencari ikan karena solar untuk bahan bakar kapalnya tidak ada. Jadi ini availablity-nya ada tidak? Kalau tidak ada, lantas apa yang mau disubsidi," tanyanya.
Belum lagi masalah harganya, ketika BBM Bersubsidi yang ada di kota hanya seharga Rp 4.500/liter, namun di daerah yang jauh harganya semakin mahal. "Di Papua, harga Solar mencapai Rp 30.000/liter, di Sulawesi Utara mencapai Rp 15.000/liter. Kenapa seperti itu?" tambah Dirgo.
(nrs/hen)











































