Orang Indonesia Tak Berani Bayar Lebih Mahal untuk Energi

Orang Indonesia Tak Berani Bayar Lebih Mahal untuk Energi

- detikFinance
Senin, 14 Nov 2011 14:21 WIB
Orang Indonesia Tak Berani Bayar Lebih Mahal untuk Energi
Jakarta - Orang Indonesia memiliki kecenderungan untuk tidak mau membeli kebutuhan energi dengan harga yang sedikit lebih mahal. Akibatnya sumber energi seperti batubara dan gas yang jumlahnya berlimpah lebih banyak diekspor ke luar negeri

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral ESDM Widjajono Partowidagdo ketika ditemui di Oh La La Cafe pada sebuah diskusi publik Sindo Hot Topic, Jakarta, Senin (14/11/2011).

"Untuk gas dan batubara, misalnya di batubara, pasokan domestik kita hanya 20%. Kita sebetulnya bisa tambah lagi kebutuhan domestik untuk pembangkit batubara, agar listirk bisa lebih murah. Tapi di Indonesia maunya murah-murah semua, kalau harganya bisa menyamai dengan harga ekspor, maka pengusaha batubara akan mau menjualnya ke dalam negeri daripada ke luar negeri," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya dengan mau membayar dengan harga menyamai harga ekspor, Widjajono mengatakan harga yang dibayar masih lebih murah daripada membeli bahan bakar minyak. "Sekalipun lebih mahal, tidak apa-apa, pasti lebih murah daripada minyak. Bahkan bisa setengahnya," ujarnya.

"Kemudian, di Jakarta, SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) hanya terdapat beberapa saja. Itu karena gasnya terlalu murah. Padahal harga keekonomiannya Rp 4.000/liter setara premium (LSP). Sekarang dijual Rp 3.100, kalau dinaikkan investor pasti akan datang dengan sendirinya. Karena lebih menguntungkan, dan SPBG-SPBG baru akan bermunculan juga," kata Widjajono.

"Kita jangan lah nawar-nawar lagi, jadi lebih baik untungkan saja pengusaha," pintanya.

Untuk pasokan gas bagi PLN, Widjajono mengatakan bahwa harga pembelian dari KKKS pengelola lapangan gas memang harus dinaikkan. Sehingga pihak kontraktor mau untuk menjual ke dalam negeri ketimbang harus diekspor ke luar negeri. Karena sejauh ini PGN selau distributor gas dalam negeri masih membeli gas dengan harga yang murah.

"Itu dia, sekarang itu harga dari PGN harus yang pantas. Kalau harganya tidak pantas, maka tidak bisa kita dapatkan gas. Jadi bayar sedikit lebih mahal tidak apa-apa, tapi lebih murah daripada membeli BBM kan lebih baik," tukasnya.

Biaya pokok produksi menghasilkan listrik dari gas lebih murah ketimbang melalui BBM. Maka itu orang Indonesia seharusnya berani membeli kebutuhan energi dengan harga yang lebih mahal, dan itu akan lebih murah daripada BBM. Hal ini dilakukan agar pemerintah dapat berhemat triliunan rupiah dengan mendiversifikasi penggunaan BBM.


(nrs/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads