Demikian disampaikan Mochammad Harun selaku VP Corporate Communication, ketika dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (17/11/2011).
"Jadi kita ingin beli tiga kali lipat dari harga gas yang dijual ke Fujiyan. Di sana kan dijual dengan harga US$ 3,35 per mmbtu, kita bisa beli sampai US$ 10-an. Ini kan untuk mengurangi subsidi energi juga di PLN, dan bisa kita optimalkan mereka, kan mereka membutuhkan pasokan gas," ungkap Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi begini intinya, kita kan ada proyek FSRU kita yang di teluk Jakarta, sekarang kondisinya untuk saat ini pengerjaan floating storage-nya sudah 80%, dan kemudaian fasilitas yang di darat sudah mencapai 50%. Kita perkirakan di akhir Januari 2012 sudah selesai, dan selama sebulan kita comissioning test di Februari 2012 sudah bisa on stream," terangnya.
"FSRU ini kan kapasitasnya 3 juta metrik ton per tahun, kita baru mendapatkan pasokan gas dari Bontang 1,5 juta metrik ton per tahun. Sisanya, 1,5 juta metrik ton ingin kita gunakan juga untuk suplai gas ke PLN yang rencananya sebesar 200 juta kaki kubik per hari. Karena kita baru punya 1,5 juta metrik ton, kita harapkan gas dari Tangguh bisa dibawa ke sana sebesar sisanya," tambah Harun sekali lagi.
Dengan dibelinya gas Tangguh dengan harga hingga tiga kali lipat, maka harga gas tersebut dapat terkoreksi nilai keekonomiannya. Penerimaan bagi negera juga bisa meningkat karena harga gas yang berani dibayar lebih mahal.
"Kita juga bisa menaikkan pasokan gas dari 200 mmcfd ke 400 mmcfd. Jadi subsidi pemerintah ke PLN bisa berkurang, karena kita bisa mengoptimalkan gas dari penggunaan BBM. Kan sayang, kita ada LNG sendiri tapi diekspor, kita kekurangan minyak, makanya kita berani beli tiga kali lipatnya dari Fujian," tegasnya.
Namun belum diketahui apakah gas Tangguh bisa dialihkan ke Pertamina meski harganya lebih mahal? Karena sudah ada kontrak perjanjian Tangguh dengan Fujian.
(nrs/dnl)











































