"Program konversi kita di Lombok telah tuntas dalam dua tahap. Paket perdana elpiji 3 kg kita salurkan seluruhnya 679.071 baik untuk rumah tangga dan usaha mikro. Tapi pemerintah daerah menyatakan masih kurang. Masih perlu 281.808 lagi," kata Sales Representatif Elpiji Pertamina Rayon IX Hanggowo Wicaksono usai rapat dengan Komisi II DPRD NTB, di Mataram, Jumat (18/11/2011).
Hanggowo mengatakan, Gubernur NTB M Zainul Majdi telah mengirim surat ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral meminta penambahan paket perdana epliji 3 kg untuk Lombok. Surat yang sama ditembuskan ke Manajemen Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Posisi Pertamina adalah regulator. Kepastian apakah permintaan itu disetujui ada pada pemerintah. Pada prinsipnya, Pertamina siap menyalurkan penambahan itu jika disetujui pemerintah," katanya.
Hanya saja kata dia, karena program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg di Lombok telah tuntas, maka ketika ada penambahan, Pertamina sendiri yang akan memverifikasi data yang diberikan pemerintah daerah, sebelum ada penyaluran.
"Konsultan sudah tidak ada lagi. Karena kan memang sudah selesai. Kalau penambahan ini disetujui, maka Pertamina yang akan memverifikasi datanya," kata Hanggowo.
Menurutnya, potensi ada keluarga yang berhak menerima paket perdana elpiji 3 kg tapi belum terdata memang mungkin terjadi. Soal jumlahnya yang jauh melampaui data keluarga miskin penerima bantuan beras miskin di Lombok, kata Hanggowo, itu disebabkan pendekatan raskin dan konversi elpiji 3 kg yang berbeda.
"Kalau ada keluarga yang memiliki pendapatan Rp 1,5 juta ke bawah sebulan, maka keluarga itu berhak menerima paket perdana elpiji 3 kg," katanya.
Program konversi minyak tanah ke elpiji di NTB, dimulai sejak 17 Desember 2010. Program ini dikhususkan di Pulau Lombok yang populasinya mencapai 3,5 juta jiwa. Sementara program serupa di Pulau Sumbawa, masih belum dipastikan, meski sudah direncanakan akhir 2012.
(dnl/dnl)











































