Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan, saat ini pemerintah bisa menaikkan harga BBM subsidi karena realisasi inflasi masih cukup rendah.
"Karena inflasi rendah maka kalau menaikkan harga sekarang ya tidak masalah. Tapi itu kan keputusan yang paling atas (Presiden). Kalau saya jadi ekonom begitu, karena kerugian negara jadi berkurang, sekarang kan nggak cukup APBN-nya, kalau kurang mau ditutup pakai apa. Pembatasan (konsumsi) itu susah kalau harganya rendah orang kan nggak menghemat BBM tapi menghemat duit," pungkasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2011 sebesar 2,85%.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku, kenaikan harga BBM merupakan opsi politis sehingga perlu melibatkan banyak pihak termasuk Presiden dan DPR.
Tapi, lanjutnya, kenaikan harga BBM bakal berdampak langsung kepada penghematan anggaran subsidi BBM. Karena sat ini harga minyak sudah tinggi dan konsumsi BBM subsidi terus melonjak.
"Tapi kalau saya sebagai ekonom, masalahnya ICP (harga minyak) sudah melampaui target. karena di APBN 2011, kalau melampaui target punya opsi menaikkan harga BBM, tapi kalau tidak diambil itu urusan politik. Pembatasan BBM itu kan tahun depan, tahun ini kan penggunaaan BBM sudah banyak, harga minyak sudah tinggi jadi kerugiannya ada," jelasnya.
Seperti diketahui, untuk menekan anggaran subsidi BBM pemerintah lebih memilih untuk melarang mobil pribadi menggunakan BBM bersubsidi. Rencananya kebijakan ini akan dilakukan April 2012.
"Pembatasan BBM itu paling bisa ganti yang kendaraan pribadi jadi pakai pertamax, itu paling gampang. April ini, kendaraan pribadi pakai pertamax," ujar Widjajono.
Sebelumnya, Widjajono mengusulkan harga BBM bersubsidi jenis premium dinaikkan Rp 1.000/liter menjadi Rp 5.500/liter bagi orang yang mampu namun tidak mau membeli pertamax.
(nia/dnl)











































