Karena itu, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Tubagus Haryono mengatakan, selama harga BBM non subsidi masih tinggi, maka konsumsi BBM subsidi belum bisa dibendung.
"Sebenarnya kalau pakai BBM non bersubsidi itu lebih untung karena mesin tidak cepat rusak, pembakaran lebih sempurna. Tapi orang lebih banyak mempertimbangkan aspek keekonomian, yaitu harga. Saya yakin kalau harga BBM non subsidi ini turun, katakanlah menjadi Rp 6.000, banyak sekali yang bakal pindah ke non subsidi karena punya keuntungan," jelasnya saat ditemui di Hotel JW Marriott, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPH Migas saat ini terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk menekan angka konsumsi BBM subsidi agar tidak melewati kuota yang ditetapkan sebanyak 41 juta kiloliter (KL). "Yang jelas kami dengan pemda berusaha untuk menekan itu," katanya.
"Kalau harga pertamax turun, saya yakin pertumbuhannya signifikan karena pada dasaranya masyarakat kita sudah mulai memperhatikan lingkungan," tukasnya.
Seperti diketahui, realisasi konsumsi BBM bersubsidi sudah mencapai 34 juta KL dari Januari hingga Oktober 2011, melebihi kuota dalam APBN-P 2011. Peningkatan konsumsi terutama disebabkan karena peningkatan jumlah kendaraan motor yang signifikan.
(dnl/dnl)











































