Demikian disampaikannya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (24/11/2011) malam.
"Kalau naik ya makin gak byarpet, semua itu kan tidak beres kalau murah, ya logikanya begitu saja, kalau mau kualitasnya lebih baik ya naik, kalau kualitasnya tidak mau lebih baik ya tidak perlu naik," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pakailah energi yang lebih murah, jadi biaya pokok pembangkitnya murah, jadi kita pakai gas, batubara, pakai air, geotermal, pasti biayanya murah. Sumatera Selatan itu biaya listriknya cuma 700 perak dia pakai gas dan batubara, tapi di Sumatera Utara 3000 perak karena pakai BBM," jelasnya.
Untuk itu, lanjut Widjajono, pemerintah perlu melakukan pengalihan sumber energi untuk PT PLN (persero) untuk perbaikan kualitas listrik dalam negeri tanpa perlu memberatkan biaya produksi yang teramat besar kepada masyarakat.
"Kalau usaha pemerintah ya, usahakan jangan pakai BBM. Kalau kita tidak pakai BBM, biaya listriknya lebih murah akibatnya servisnya lebih baik, untuk orang-orang yang belum punya listrik pun lebih baik. Tahun 2012 bisa sih bisa, tapi kemajuannya seperti bagaimana tergantung usaha kita dan ridho Tuhan," tegasnya.
Salah satu caranya, tambah Widjajono, penggunaan cadangan gas dan batu bara yang masih banyak untuk keperluan ekspor dialihkan untuk memenuhi keperluan domestik. Pengalihan ini bisa dilakukan dengan pemberian harga yang bersaing dengan harga negara lain sehingga eksportir mau menjualnya untuk dalam negeri.
"Ya makanya yang diekspor itu dipakai untuk dalam negeri, tapi syaratnya begini, kenapa orang tidak mau dipakai ke dalam negeri karena di dalam negeri harganya jelek, kalaupun kita mau, harganya sama saja, pakai batubara impor pun lebih murah dibandingkan pakai BBM kok. Jadi orang Indonesia salahnya begini, kalau mau pakai energi yang murah sekali, akibatnya pakai yang mahal sekali, jeleknya itu saja," sindirnya.
Dengan demikian, Widjajono mengharapkan efektivitas dan efisiensi PLN dapat dilakukan.
"Jadi bukan ditarik (ke dalam negeri), tapi kalau harganya sama, India mau beli sama, Indonesia mau beli sama, kalau dia masih jual ke India, tandanya tidak punya nasionalisme. Kalau harganya sama dan lebih murah dari BBM ya kenapa tidak, kalau beli batubara misalkan 9 sen per Kwh, BBM 36 sen, kenapa kita tidak mau beli yang 9 sen, masa kita mau beli yang 36 sen terus, ya memang bangkrut, kalau mau korupsi ya memang bangkrut," pungkasnya.
(nia/qom)











































