Dirut Pertamina 'Bujuk' Pemerintah Demi Proyek Konversi BBG

Dirut Pertamina 'Bujuk' Pemerintah Demi Proyek Konversi BBG

- detikFinance
Senin, 05 Des 2011 12:35 WIB
Dirut Pertamina Bujuk Pemerintah Demi Proyek Konversi BBG
Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus mengincar jadi pelaksana program konversi BBM ke BBG (bahan bakar gas) yang akan dilakukan pemerintah. Karena Pertamina merasa berpengalaman di bidang konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg.

Hal ini disampaikan oleh petikan pidato Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dalam acara Go Gas 2011 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (5/12/2011).

"Mengambil pelajaran dan pengalaman dari program Konversi minyak tanah ke elpiji yang berjalan dengan sukes, serta pengalaman di bidang upstream, midstream, maupun downstream, Pertamina menyatakan kesiapannya untuk menjadi koordinator program konversi BBM ke gas," tutur Karen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karen mengatakan, sudah saatnya Indonesia melakukan penghematan konsumsi energi fosil dan menggunakan energi baru seperti gas ini. Apalagi harga minyak yang mahal membuat pemerintah mengeluarkan dana yang besar untuk subsidi BBM tersebut.

"Subsidi pemerintah yang saat ini terus tersedot untuk BBM bisa dialihkan kepada sektor lain yang masih sangat membutuhkan," ujarnya.

Menurutnya, program Konversi BBM ke gas perlu mendapat dukungan penuh dari seluruh pihak terkait, mulai dari pemerintah sebagai regulator, seluruh pelaku usaha hulu gas, usaha midstream gas, maupun usaha hilir gas.

"Saya yakin kesuksesan program konversi ini akan memperbaiki kualitas udara di sekitar kita. Di samping itu, penghapusan subsidi BBM akan menghasilkan penghematan keuangan negara secara signifikan," imbuh Karen.

Saat ini Pertamina sebenarnya telah menyediakan bahan bakar gas untuk kendaraan dan telah mengoperasikan 8 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

Sejak pertama kali dicanangkan, jumlah NGV (natural gas vehicle) terus mengalami perkembangan, hingga mencapai puncaknya sebanyak 6.600 unit di tahun 2000. Namun karena kebijakan harga BBM bersubsidi tidak dapat mendorong pemanfaatan BBG dan disertai adanya kendala-kendala operasional lainnya di lapangan, jumlah tersebut mengalami penurunan, hingga hanya mencapai 500 unit di tahun 2006.

Pengembangan NGV di Indonesia sebenarnya tetap merupakan bisnis yang menarik karena jumlahnya yang sangat besar. Populasi kendaraan yang berjumlah 6 juta kendaraan pribadi, 4 juta truk, 2 juta bus, dan 110 ribu kendaraan angkutan umum, berpotensi untuk menjadi konsumen BBG. Di samping itu, subsidi BBM yang kian meningkat dari tahun ke tahun dirasakan sudah sangat membebani anggaran Pemerintah.
(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads