SBY Heran Harga Minyak Tak Turun-turun

SBY Heran Harga Minyak Tak Turun-turun

- detikFinance
Selasa, 06 Des 2011 16:13 WIB
SBY Heran Harga Minyak Tak Turun-turun
Jakarta - Melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara maju ternyata tidak serta merta membuat harga minyak dunia turun secara signifikan. Fenomena ini dianggap aneh oleh Presiden SBY.

Kenapa? sebab meski permintaan dunia menurun, namun harga minyak mentah tetap di kisaran US$ 100 dolar per barel yang bisa dibilang cukup tinggi.

"Saat ini krisis ekonomi global datang lagi diawali dengan krisis keruangan di Eropa, anehnya harga minyak terus tetap," ujar Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/12/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak mentah dunia mencapai puncaknya pada 2008 lalu. Akibat lonjakan permintaan, pada saat itu harganya mencapai US$ 145 per barrel. Tapi di saat permintaan berkurang, harganya tidak serta merta kembali turun di bawa US$ 100 per barrel seperti sebelum terjadinya lonjakan tiga tahun lalu.

"Banyak faktor penyebabnya, ada ulah spekulan, sebagian dari trader global dan sentimen geo politik. Situasi yang panas di Iran dan Afrika Utara, turut membuat ketidakpastian harga minyak. Iran mengancam bila terus diembargo apalagi tidak boleh menjual minyak, maka akan jadi US$ 200 per barrel," papar SBY.

"Faktor lainnya bagaimanapun negara produsen minyak ingin dapat keuntungan sebesar-besarnya. Mereka senang harga minyak tinggi. Di era ini, negara sering kalah dengan perusahaan multi nasional, ini kelemahan sistem kapitalis global," sambung SBY.

Tingginya harga minyak mentah dunia, tentu perlu diwaspadai Indonesia mengingat terus bertambahnya konsumsi energi di masyarakat. Bukan hanya mewaspadai tapi juga aktif melakukan upaya-upaya nyata untuk mengantisipasi ledakan masalah krisis energi nasional di masa mendatang.

"Sudah tahu masalahnya seperti ini lantas kita pasif, tentu kita keliru dan merugi sendiri. Bukan hanya berjaga, tapi kita harus sangat aktif," tegas SBY.

"Dunia sering aneh dan tidak adil, pada 2008-2009 ekonomi kita ikut terguncang padahal sumber masalahnya di AS. Sekarang sumbernya di Eropa, krisis bisa datang dan kalau kita tidak lakukan sesuatu kita bisa menjadi korban," imbuhnya.

(lh/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads