VP Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan, tingginya harga minyak dunia diikuti oleh melonjaknya harga LNG yang mencapai US$ 18/MMBTU mengakibatkan sangat kecil kemungkinan mengimpor LNG dari Timur Tengah.
"Oleh karena itu Pertamina mendorong pemerintah agar memanfaatkan opsi kewajiban DMO (Domestik Market Obligation) yang belum dipenuhi oleh para produsen gas Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang menghasilkan LNG untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kebutuhan dalam negeri," tutur Harun dalam siaran pers, Kamis (8/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Harun, perkembangan pasar LNG pada saat ini berada di kisaran 15% hingga 20% dari harga Japan Cocktail Crude (JCC) atau sekitar US$ 16,5/MMBTU-US$ 22/MMBTU pada harga JCC saat ini sebesar US$ 110/barel.
Indonesia sebagai produsen LNG sudah seharusnya memanfaatkan konsisi pasar saat ini untuk melakukan renegosiasi kontrak LNG yang harganya masih sangat murah. Kebijakan pemanfaatan LNG untuk kebutuhan domestik juga sangat mendesak untuk segera direalisasikan sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi Indonesia dan memberikan multiplier effect yang sangat besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Harun mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan gas yang diperlukan untuk pembangkit listrik PLN, Pertamina bersama PGN telah membangun Floating Storage Regasification Unit di Teluk Jakarta dengan Kapasitas 3 juta MTA yang akan beroperasi awal Maret 2012.
Pertamina juga telah menyiapkan pembangunan LNG Reciving Terminal di Jawa Tengah dengan kapasitas 3 juta MTA yang akan mulai beroperasi triwulan I-2013. Gas dari Receiving Terminal Jawa Tengah ini selanjutnya akan dialirkan melalui integrated Java Pipeline Project yang sedang dikerjakan oleh Pertamina Gas.
Untuk tahap pertama pembangunan pipa sepanjang 250 km Semarang-Gresik mulai dilaksanakan di awal 2012 dan diperkirakan on stream pada 2013. Tahap kedua akan dibangun Semarang-Cirebon dan selanjutnya akan menghubungkan Cirebon-Muara Tawar. Dengan demikian seluruh pembangkit listrik PLN, dan industry sepanjang pantai utara jawa dapat terpenuhi kebutuhan gasnya.
Pertamina juga membangun mini LNG Receiving Terminal bersama PLN untuk Tanjung Batu, Batakan, Balikpapan, Semberah, Bali, Pomala, Jeneponto, Tello, Minahasa, dan Halmahera dengan total kapasitas 1 juta MTA dan direncanakan mulai beroperasi pada kuartal III-2013.
Untuk tetap menghidupkan industri di Aceh, Sumatera Utara dan pemenuhan pembangkit listrik, Pertamina melakukan revitalisasi kilang Arun di Aceh menjadi LNG Receiving Terminal dengan total kapasitas 3 juta MTA yang mulai beroperasi pada awal 2013. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan pasokan LNG yang cukup besar ditahun mendatang.
(dnl/ang)











































