Presiden Direktur Berau, Rosan Perkasa Roeslina mengatakan perseroan bakal mengalihkan ekspor batubara ke India untuk mendiversivikasi risiko dan tidak lagi bergantung pada pasar China.
"Lebih kepada diversifikasi. Permintaan batubara China memang lebih besar, namun ekspektasi kami mulai melayani pasar India, daripada saat ini, mulai 2014," kata Rosan di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (14/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjualan sampai dengan November 18,5 juta ton. Dan sampai akhir tahun bisa 20 juta ton. Untuk tahun depan bisa naik jadi 23 juta ton," katanya.
Meski optimistis jumlah produksi naik, namun perseroan hanya mengestimasi harga rata-rata batubara tahun depan US$ 80 per ton, atau turun dari tahun ini US$ 81 per ton. "Selling price memang di bawah US$ 81, meski indeks 2011 meningkat tapi 2012 kita hitung secara keseluruhan. Kita simpulkan US$ 80," tambahnya.
Namun sayang, Rosan enggan menyebut target pendapatan Berau tahun depan, meski besar kemungkinan akan meningkat. "Saya nggak hafal angkanya, tapi naik. Untuk bottomline (laba) kita harapkan naik sampai 300%," tegasnya.
Hingga September 2011, perseroan mencatat pendapatan US$ 1,207 miliar, naik 58,12% dari periode yang sama tahun lalu. Laba bersih pun naik hingga 239,3% menjadi US$ 112 juta. Produksi dan penjualan di triwulan III terjaga pada level 14,32 juta ton, lebih tinggi 17,1% dari sebelumnya 12,23 juta ton.
"Peningkatan kinerja tersebut, memberikan keyakinan perseroan mampu memenuhi target produksi 20 juta ton di 2011," imbuh Rosan.
Guna meningkatkan produksinya dalam jangka panjang, perseroan menganggarkan belanja modal US$ 140-160 juta. Sumber pendanaan dari kas internal, dan dialokasikan guna pembangunan infratruktur di lokasi tambang.
"Capex US$ 140-160 juta. Semua dari kas internal," katanya. Perseroan memiliki cadangan batubara 467 juta ton dengan nilai kalori 6.100 kkal.
(wep/dnl)










































