"40% cadangan geothermal dunia ada di Indonesia, namun pemanfaatan energi ini sangat kecil, bahkan banyak yang tidak mau mengembangkannya," kata Komisaris Utama Energy Management Indonesia (EMI) Sarwono Kusumaatmadja di FX, Sudirman, Jakarta, Kamis (15/12/2011)
Menurutnya geothermal yang ada di Indonesia jenisnya basah alias bukan kering, sehingga diekspor atau di impor tidak bisa. Jika ini dimanfaatkan hasilnya sangat besar apalagi jumlahnya sangat banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu menurut Wakil Menteri ESDM Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan, memang harga geothermal sangat murah, namun jarang yang mau mengembangkannya.
"Ya wataknya orang Indonesia, harga sudah murah yakni sekitar 9 sen, tapi ditawar lagi jadi 6 sen, ya nggak ada yang mau ngebangkan, sementara kita malah senang gunakan energi yang harganya mahal dan kita mau, alasannya nanti juga biaya jika kelebihan bisa diganti kementrian keuangan," terangnya.
Sama halnya dengan batubara, harganya sudah murah, tapi tidak ada yang mau jual ke domestik. "Apalagi kalau tidak karena harganya yang murah, eksportir milih jual ke luar negeri yang harganya lebih tinggi dan banyak negara membutuhkan, ya bagaimana rakyat bisa menikmati energi murah yang bahan bakunya kurang," jelasnya.
(hen/hen)











































