Menurut Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Firmanzah mengatakan sudah sepantasnya harga BBM dinaikkan, karena jika terus dibiarkan anggaran negara akan semakin terkuras.
"Bayangkan saja kuota BBM 2011 yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp 90 triliun jebol dan ditambah lagi menjadi Rp 120 triliun pada APBN-Perubahan, dan saat ini sudah jebol lagi menjadi Rp 170 triliun, jadi kami pikir sudah layaklah BBM bersubsidi harganya dinaikkan," ujarnya di FX Mal, Jakarta, Kamis (15/12/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus bertahap, agar masyarakat kita tidak kaget," ujarnya lagi.
Firmanzah bilang, walaupun nantinya terus naik secara bertahap namun BBM tetap harus disubsidi, artinya tidak diserahkan ke pasar seperti layaknya pertamax atau solar dex.
"BBM jenis premium dan solar tetap disubsidi khususnya untuk kendaraan publik, namun harganya disesuaikan dengan biaya produksi, yakni sekitar Rp 7.000-Rp 7.500 per liternya," tambahnya.
Menurutnya, hal ini harus dilakukan mengingat kebutuhan energi tiap tahunnya terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi. Pada prinsipnya kebutuhan energi jauh lebih tinggi dibadingkan pertumbuhan ekonomi.
"Misalnya saja, pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, maka kebutuhan energinya minimal 11%," tandasnya.
(dnl/dnl)











































