Produksi Minyak Melorot, Setoran Migas Tetap Lampaui Target

Produksi Minyak Melorot, Setoran Migas Tetap Lampaui Target

- detikFinance
Jumat, 16 Des 2011 16:47 WIB
Produksi Minyak Melorot, Setoran Migas Tetap Lampaui Target
Jakarta - Sepanjang tahun ini, industri hulu migas di Indonesia bakal menyetor US$ 34,4 miliar ke kas negara. Jumlah ini di atas target yang ditetapkan pemerintah sebesar US$ 32 miliar di tahun ini.

Demikian disampaikan oleh Kepala BP Migas R. Priyono dalam jumpa pers di kantornya, Wisma Mulia, Jakarta, Jumat (16/12/2011).

"Industri hulu migas membukukan penerimaan negara sebesar US$ 34,4 miliar ke dalam kas negara di 2011 dari proposal US$ 32 miliar. Dan lebih tinggi 29,8% dari 2010 yang sebesar US$ 26,5 miliar," jelas Priyono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, jumlah produksi minyak Indonesia di tahun ini masih di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 930 ribu barel per hari. Produksi minyak Indonesia hanya mencapai 903 ribu barel per hari.

Priyono mengatakan, jumlah produksi migas Indonesia tahun ini mencapai 2,4 juta barel setara minyak per hari. Ini terdiri dari minyak sebesar 903 ribu barel per hari dan produksi gas 1,5 juta barel setara minyak per hari.

Secara total, produksi migas di 2011 turun dibandingkan di 2010 yang sebesarnya 2,5 juta barel setara minyak per hari. Di 2010 produksi migas Indonesia terdiri dari minyak sebesar 944 ribu barel per hari dan produksi gas 1,58 juta barel setara minyak per hari.

"Target produksi minyak tahun depan BP Migas menargetkan 930 ribu barel per hari namun pemerintah menargetkan 950 ribu barel per hari, jadi kami kisarannya segitu," tukas Priyono.

Priyono mengatakan cukup puas dengan penerimaan migas tahun ini yang melampaui target pemerintah. Meskipun diakui produksi minyak menurun. Pergerakan harga minyak, meskipun sedikit, namun sangat berpengaruh terhadap peneriman negara.

"Kami sudah kasih masukan kepada menteri dan Wapres, cobalah kedepan jangan bergantung kepada asumsi tapi tolong penerimaan negara jangan terlalu dikaitkan dengan lifting (produksi) minyak tapi tentukan saja sumbangan dari industri migas berapa kita akan usahakan karena ada bagian dari industri migas yang bisa dikendalikan oleh pemerintah yaitu suplai gas untuk domestik," kata Priyono.

Saat ini 50% suplai gas diperuntukan untuk domestik dan sisanya diekspor. Priyono mengeluh sebab gas untuk domestik ini dijual dengan harga rendah alias subsidi. "Padahal suplai gas domestik ini bukan untuk rakyat-rakyat kecil kaki lima," imbuh Priyono.

"Maka kita berasumsi kalau harga gas kita coba naikkan sesuai dengan kemampuan daya beli industri dari US$ 5,6 sampai US$12 maka pertambahan penerimaan negara dari gas domestik saja bisa akan bisa sampai Rp 40 triliun," tegas Priyono.

Tahun depan tambahan produksi gas Indonesia bakal besar dari sumur Tangguh dan Sempra, namun untuk volume produksi masih dinegosiasikan dengan perusahaan kontraktor.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads