Demikian disampaikan oleh Kepala BP Migas R. Priyono dalam jumpa pers di kantornya, Wisma Mulia, Jakarta, Jumat (16/12/2011).
"Industri hulu migas membukukan penerimaan negara sebesar US$ 34,4 miliar ke dalam kas negara di 2011 dari proposal US$ 32 miliar. Dan lebih tinggi 29,8% dari 2010 yang sebesar US$ 26,5 miliar," jelas Priyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono mengatakan, jumlah produksi migas Indonesia tahun ini mencapai 2,4 juta barel setara minyak per hari. Ini terdiri dari minyak sebesar 903 ribu barel per hari dan produksi gas 1,5 juta barel setara minyak per hari.
Secara total, produksi migas di 2011 turun dibandingkan di 2010 yang sebesarnya 2,5 juta barel setara minyak per hari. Di 2010 produksi migas Indonesia terdiri dari minyak sebesar 944 ribu barel per hari dan produksi gas 1,58 juta barel setara minyak per hari.
"Target produksi minyak tahun depan BP Migas menargetkan 930 ribu barel per hari namun pemerintah menargetkan 950 ribu barel per hari, jadi kami kisarannya segitu," tukas Priyono.
Priyono mengatakan cukup puas dengan penerimaan migas tahun ini yang melampaui target pemerintah. Meskipun diakui produksi minyak menurun. Pergerakan harga minyak, meskipun sedikit, namun sangat berpengaruh terhadap peneriman negara.
"Kami sudah kasih masukan kepada menteri dan Wapres, cobalah kedepan jangan bergantung kepada asumsi tapi tolong penerimaan negara jangan terlalu dikaitkan dengan lifting (produksi) minyak tapi tentukan saja sumbangan dari industri migas berapa kita akan usahakan karena ada bagian dari industri migas yang bisa dikendalikan oleh pemerintah yaitu suplai gas untuk domestik," kata Priyono.
Saat ini 50% suplai gas diperuntukan untuk domestik dan sisanya diekspor. Priyono mengeluh sebab gas untuk domestik ini dijual dengan harga rendah alias subsidi. "Padahal suplai gas domestik ini bukan untuk rakyat-rakyat kecil kaki lima," imbuh Priyono.
"Maka kita berasumsi kalau harga gas kita coba naikkan sesuai dengan kemampuan daya beli industri dari US$ 5,6 sampai US$12 maka pertambahan penerimaan negara dari gas domestik saja bisa akan bisa sampai Rp 40 triliun," tegas Priyono.
Tahun depan tambahan produksi gas Indonesia bakal besar dari sumur Tangguh dan Sempra, namun untuk volume produksi masih dinegosiasikan dengan perusahaan kontraktor.
(dnl/hen)











































