"Jadi realisasinya sekitar 112 persen tapi rasio cost recovery terhadap revenue menurun, karena revenuenya lebih besar, APBN-nya kita capai 106 persen, jadi naik 112 persen tapi rasionya menurun," kata Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R. Priyono saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (16/12/2011).
Sementara untuk produksi minyak, Priyono memastikan tidak akan tercapai mengingat banyaknya masalah yang terjadi dan mengganggu proses produksi. Realisasi diperkirakan 904 ribu barel per hari, sementara target dalam APBN-P 2011 sebesar 945 ribu barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data BP Migas selama 6 bulan 2011 saja pemerintah telah membayarkan biaya cost recovery sebesar US$ 7,1 miliar kepada KKKS. Realisasi tersebut sudah mencapai 57% dari cost recovery yang ditargetkan tahun ini sebesar US$ 12,3 miliar.
Dibandingkan dengan tahun lalu, biaya cost recovery yang dikeluarkan kurang lebih sama. Cost recovery yang harus dibayar memang selalu lebih besar di semester awal disebabkan adanya kegiatan eksplirasi atau produksi yang dikejar pada awal tahun.
Untuk diketahui, biaya cost recovery tersebut dibagi dalam pengeluaran belanja modal (capital expenditure) dan operasional (operational expenditure). Belanja modal biasanya dipakai untuk kegiatan teknis produksi misalnya pengeboran sumur , pemasangan pipa, dan lainnya.
Sedangkan biaya operasional dipakai untuk memenuhi kebutuhanpengeluaran operasional untuk keperluan rutin perusahaan. Misalnya, gaji pegawai, sewa gedung, dan lainnya.
(nia/hen)











































