Kilang Pertamina Sudah Uzur, Impor BBM Tak Bisa Dihindari

Kilang Pertamina Sudah Uzur, Impor BBM Tak Bisa Dihindari

- detikFinance
Rabu, 28 Des 2011 15:34 WIB
Kilang Pertamina Sudah Uzur, Impor BBM Tak Bisa Dihindari
Cilacap - Kilang milik PT Pertamina (Persero) sudah cukup tua sehingga tidak dapat maksimal untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM). Oleh sebab it,u Pertamina tidak bisa menghindar dari impor untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri.

"Kebutuhan nasional BBM itu mencapai 56 juta KL dan akan terus meningkat 4% per tahun. Sementara itu Pertamina hanya mampu memenuhi kebutuhan premium hingga 54% dan solar 86% serta avtur 100%," kata Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

"Hal ini dikarenakan rata-rata kilang dibangun pada tahun 70-80-an. Karena konsumsi BBM meningkat saat ini susah sekali menghindar dari impor," imbuh Karen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karen menyampaikan hal ini dihadapan Presiden SBY dalam acara Ground Breaking kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Cilacap di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (28/12/2011).

Dijelaskan Karen selain impor, untuk meningkatkan produksi BBM dalam negeri dan gas di kilang minyak Cilacap, JawaTengah, pihak Pertamina Refenery Unit (RU) IV berupaya mengolah kembali residu minyak bumi menjadi premium beroktan tinggi dan elpiji.

"Peningkatan produksi BBM itu akan diwujudkan pada kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang segera dimulai pembangunannya dan diresmikan ground breakingnya hari ini oleh Presiden," ungkap Karen.

Pembangunan kilang baru itu, menurut Karen dimaksudkan untuk meningkatkan produksi bahan bakar dan produk-produk petrokimia lainnya yang dihasilkan kilang RU IV, sehingga dapat meningkatkan margin produksi LPG, RCC, Gasoline dan Propylene.

"Kilang Cilacap merupakan kilang terbesar Pertamina dengan kapasitas produksi 348 ribu barel perhari dan dengan dibangunnya proyek RFCC, maka kapasitas produksi kilang Cilacap akan bertambah 60 ribu barel perhari. Penambahan itu salah satunya dapat menghasilkan penambahan produksi premium 34,2 ribu barel perhari," jelas Karen.


(dru/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads