"Pemda (Gubernur) dan DPRD Bali menilai pasokan listrik dari Jawa sudah cukup jadi kenapa harus buat pembangkit panas bumi (geothermal), jadi mereka maunya terima bersih dan yang 'susah' biar yang di Jawa saja," kata Widjajono, di kantor Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali (P3B) PLN, Gandul-Cinere, Jumat (30/12/11).
Menurutnya memang saat ini pasokan listrik ke Bali masih disubsidi pemerintah, makanya harganya murah. "Jadi kalau Bali bisa pasok energi listrik sendiri kenapa tidak buat sendiri tanpa dipasok dari Jawa, dan Bali punya potensi panas bumi yang besar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi saat dirinya diundang Universitas Udayana disana, semua mahasiswa, Bupati, tokoh masyarakat dan masyarakat Bali setuju soal proyek geothermal.
"Cuma gubernurnya dan DPRD nya saja yang belum setuju. Mungkin karena komunikasi yang tidak lancar, mungkin ada salah persepsi," tandasnya.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menolak dengan tegas rencana pembanguna proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal di Bedugul Bali. Pastika menolak pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) setelah melakukan kajian teknis dan sosial budaya.
Segi teknis, eksplorasi tiga titik di Bedugul tidak menghasilkan sumber panas bumi yang diharapkan. Sekali eksplorasi menggunduli empat hektar hutan lindung. "Kalau diteruskan, hutan yang rusak bisa sampai di kaki gunung Batukaru," kata Pastika beberapa waktu lalu.
Segi sosial budaya, proyek geothermal Bedugul berada di kawasan suci karena terdapat 30 pura di sekitar lokasi. Ia juga menegaskan penolakan pembangunan geothermal yang kembali dihangatkan oleh Jero Wacik tanpa unsur politik. "Dengan rekomendasi ini, saya minta semua polemik dihentikan," ujar Pastika.
(hen/hen)











































