"Memang produksi minyak kita saat ini tidak mencapai target, namun hal itu dikarenakan kendala alam yang kita sendiri tidak bisa menanggulanginya, tiap tahun produksi minyak kita bahkan turun 14%," kata Deputi Pengendalian Produksi BP Migas, Rudi Rubiandini, di sela perjalanan menuju kawasan ekplorasi minyak, Joint Operation Body Pertamina-medco E&P Simenggaris, Tarakan, Kalimantan Timur, Kamis (5/1/2012).
Menurut Rudi, turunnya produksi minyak di sumur-sumur minyak tidak bisa dihindari, karena usianya yang sudah tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan makin banyaknya dibuka sumur-sumur baru, produksi minyak yang turun bisa ditekan menjadi hanya 3-4%.
"Tahun 2011 kita mampu menekan turunnya produksi minyak hanya 4%, angka ini jauh lebih baik dibandingkan tahun 2010 yakni di atas 5%," ungkap Rudi.
Di 2011 ini, untuk cadangan minyak Indonesia saat ini cukup untuk 12 tahun saja. "Untuk meningkatkannya kita harus giat perbanyak sumur minyak baru," ucapnya.
Namun perbanyak sumur baru ini kendalanya juga sangat berat dan kompleks. Mulai dari kendala sosial karena banyak masyarakat yang tidak mau melepas tanahnya yang harus dilewati pipa minyak karena meminta harga yang sangat tinggi.
"Selain itu, tumpang tindih kepemilikan tanah dengan kami dan perhutanan, pertanian, dan perkebunan, kondisi ini tentunya jadi masalah besar bagi BP Migas dan Kontraktor Kontrak Kerjasama (K3S)," ungkapnya.
Belum lagi, permasalahan sulitnya ring pipa sulit masuk di bawah laut, tender yang lama, persyaratan berbendera Indonesia dan banyak lagi.
"Apalagi perizinan, kan lucu, hanya kertas doang, cuma menunda proses eksplorasi sampai pengeboran berbulan-bulan," tandasnya.
Seperti diketahui, pemerintah menyayangkan produksi minyak 2011 tidak sesuai target. Dari target produksi minyak 940 ribu barel per hari tahun lalu, realisasi hanya mencapai 899 ribu barel per hari.
(dnl/dnl)
