Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku was-was karena Indonesia bisa terkena imbas ketegangan politik ini khususnya dari sisi harga minyak.
"Indonesia berpendapat seharusnya PBB dan juga international atomic agency itu bisa memerankan peran yang bisa mencari solusi yang paling baik atas isu itu. Dengan harapan penyelesaian bisa ditempuh secara damai. Tidak perlu secara eskalatif dan mendorong ke penggunaan kekuatan militer dari pihak manapun juga," jelas SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY mengatakan, sekarang saat terjadi benturan militer di wilayah tersebut, harga minyak dunia langsung terdongkrak naik, meskipun tidak ada perubahan di sisi pasokan dan permintaan.
"Jadi dunia betul-betukl khawatir kalau ada gangguan pasokan. Kalau ini terus berlanjut maka akan merugikan dunia. Mungkin kalau harga melonjak yang akan diuntungkan oleh negara-negara yang produksi minyak. Tapi negara-negara berkembang yang tidak produksi akan dirugikan. Karena itu Indonesia menyerukan agar semua pihak bisa menahan diri agar tidak terjadi sesuatu," jelas SBY.
Dikatakan SBY, hari ini dirinya mengirimkan surat kepada Sekjen PBB agar mengambil langkah-langkah semestinya sehingga bisa mencegah terjadinya gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Ini semata-mata untuk perekonomian dunia, bangsa termasuk negara berkembang dan Indonesia sendiri yang berjuang meningkatkan pertumbuhannya," tukas SBY.
Sebelumnya, Pengamat Perminyakan Muhammad Kurtubi mengatakan ketegangan Amerika Serikat dengan Iran memberikan dampak buruk bagi negara-negara importir minyak salah satunya Indonesia. Pasalnya konflik tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah mencapai level US$ 150/barel.
(dnl/hen)











































