"Jangan tunjuk perusahaan yang bukan kompetensinya, kalau sembarang tunjuk pemerintah melupakan safety kepada masyarakat," kata Anggito, di freedom institute, Jl Proklamasi, Jakarta, Jumat (13/1/2012).
Kemampuan PT DI untuk memroduksi diragukan oleh Anggito, apalagi kalau untuk produksi secara massal terkait program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan itu menambahkan, bisa jadi pemerintah impor besar-besaran lalu bungkusnya diubah sehingga terkesan seperti produk buatan dalam negeri.
"Jadi, kesanggupan PT DI untuk menyediakan seluruh kebutuhan converter kit harus perlu dikonfirmasikan ulang," imbuhnya.
Anggito juga menyayangkan sikap pemerintah yang sama sekali tidak melirik akedemisi yang sudah tahunan meneliti, mengkaji, menguji dan membuat converter kit.
"UGM, UI dan akedemisi lainnya sudah tiga tahun ini telah melakukan pengujian, bahkan produknya sudah ber-SNI, kenapa pemerintah tidak kesana dulu," katanya.
Bahkan Anggito menilai pemerintah seolah-olah melupakan aspek keselamatan di negeri ini.
"Benar PT DI bisa buat pesawat, tapi buat tabung, converter kit masih perlu ditanya kembali," ucapnya.
Sementara peneliti dari UGM, Jayan Sentanuhady menambahkan, gas merupakan bahan yang cukup berbahaya sehingga pembuatan alatnya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan.
"Jika sembarangan atau tidak dilakukan pengujian secara mendalam, masyarakat yang menanggung kerugiannya," ujarnya.
Jayan mengharapkan, pemerintah mau belajar dari kesalahan saat konversi minyak tanah ke elpiji, yang telah menyebabkan banyak korban karena minimnya edukasi sehingga terjadi kecelakaan.
Ia juga mengaku telah memiliki produk converter kit yang sejak 2009 sudah diuji. Meski sudah ber-SNI, namun Jayan menilai belum cukup dan harus mendapatkan ISO agar masyarakat merasa aman.
"Sertifikasi SNI sudah ada, tapi itu belum cukup, kami harus uji lagi sampai sesuai standar ISO, ini tujuannya tidak lain agar masyarakat yang gunakan aman," jelasnya.
(qom/qom)











































