Menurut Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), A. Qoyum Tjandranegara, ekspor gas bumi terang-terang merugikan negara, pasalnya energi murah yang diekspor tersebut hanya untuk membeli BBM yang harganya mahal.
"Kita kehilangan ddevisa negara pada 2006 sebesar Rp 91,9 trilin, 2007 kehilangan Rp 101,2 triliun, 2008 kehilangan Rp 140 triliun, dan 2009 kehilangan Rp 77,3 triliun. Sehingga totalnya sekitar Rp 410,4 triliun," ujar Qoyum saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara terjadi perubahan kontrak LNG yang tidak umum dan memberatkan Indonesia," ucapnya.
Namun sayangnya, pemakaian gas bumi untuk transportasi di Indonesia justru menurun. "Dulu di 1984 ada 18 SPBG, sekarang tinggal 3 SPBG. Dibandingkan negara lain bahkan dengan negara yang bukan penghasil gas bumi, Indonesia jauh tertinggal di rangking 44 dunia," ungkapnya.
Bahkan menurut Qoyum, lifting minyak bumi di Kilang Duri Riau yang digarap Chevron dengan gas bumi terang merugikan negara kurang lebih US$ 2,1 miliar/tahun.
"Contohnya, tiap 360 MMBTU gas bumi dibakar akan menghasilkan minyak mentah tambahan 60 ribu BBL/hari. Jika harga minyak mentah US$ 110/BBL, harga gas bumi US$ 15,7/MMBTU dan harga BBM US$ 1,4 x 110 sama dengan US$ 154/BBL," ungkapnya.
"Jadi paling tidak Indonesia akan rugi US$ 44/BBL atau US$ 963 juta/tahun. Sementara harga gas yang dibayar Chevron hanya US$ 7,0/MMBTU, maka pemerintah akan ada tambahan kerugian US$ 1,143 miliar. Sehingga kerugiannya menjadi kurang lebih US$ 2,1 miliar per tahun, sementara yang paling diuntungkan adalah pihak Chevron," tandasnya.
(dnl/dnl)











































