Wakil Ketua Komisi VII, Effendi Simbolon mengatakan, pembatasan BBM hanya menguntungkan para kartel-kartel penjual pertamax yang notabene adalah asing
"Kita sudah tahu, kartel-kartel tersebut para SPBU penjualan pertamax itu semuanya asing, yang mengatur orang neolib semua," ujarnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi untunglah Pasal tersebut dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. Akibat dicabut pasal inilah yang membuat 'para-para' neolib ini mengajukan pembatasan subsidi, demi apa? Agar mereka bisa jual pertamax," kata politisi dari FPDIP itu.
Apalabila ini dijalankan, ini sama dengan membunuh Pertamina. Hal ini dikarenakan 6 kilang milik pertamina itu semuanya produksi premium.
"Bisa mati mereka kalau tidak boleh jual premium. kan jelas pembatasan tersebut pengalihan premium ke pertamax, kenapa premium tidak boleh di jual, kenapa tidak di jual premium non subsidi sesuai harga keekonomisan," ujarnya.
"Ini yang seharusnya buat pertamina teriak, kalau mereka legowo saja ya lama-lama mati mereka. Kenapa? karena kilang mereka baru siap produksi pertamax pada 2017, masa menunggu sampai 2017 pertamina harus impor, mati lah dia (pertamina)," jelas Effendi.
Produksi pertamax di kilang Pertamina saat ini baru mencapai 0,45 juta kiloliter per hari. Pada 2017, produksi pertamax itu akan dinaikkan menjadi 8,36 juta kiloliter.
(qom/qom)











































