"Selama saya belajar tekhik kimia tidak ada teori seperti itu yang diajarkan kepada saya. Mana ada premium dicampur zat aditif langsung bisa jadi pertamax," kata Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Wuryanto, dalam rapat dengar pendapat dengan PT Pertamina (Persero) di Gedung MPR/DPR, Jakarta Rabu (18/1/2012).
Bahkan beberapa anggota Komisi VII lainnya juga tambah 'geram' setelah mendapatkan penjelasan dari Direktur Pengolahan Pertamina, Edi Setianto yang mengatakan untuk menjadi pertamax, premium tidak bisa hanya dicampur dengan zat aditif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi dikatakan Edi, dari semua kilang yang dimiliki Pertamina, hanya kilang Balongan saja yang bisa produksi Pertamax.
"Namun kapasitasnya hanya sekitar 1 juta barel saja. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan Jawa saja jika dilakukan pembatasan, tidak akan cukup," ujarnya.
Memang, kata Edi, ada campuran zat untuk bisa memproduksi pertamax, yakni ada campuran oktan rendah 20% dan zat lainnya.
"Namun zat aditif yang dimaksudkan jumlahnya sangat kecil untuk bisa mengubah premium ke pertamax yang memiliki oktan 92," terangnya.
Mendapatkan penjelasan tersebut, anggota dari Fraksi PDI Perjuang yang biasa disapa Bambang Pacul langsung meminta Pertamina jelasin langsung ke Wamen ESDM. "Nah, itu dijelasin ke Wamen ESDM, biar dia paham," tegas Bambang.
Sementara itu, ditambahkan Direktur Pertamina, Karen Agustiawan, Pertamina baru akan siap memproduksi dan menjual pertamax secara penuh baru pada tahun 2017, dimana pada tahun tersebut produksi premium 0,00 sementara produksi pertamax menjadi 12,27 juta KL.
"Untuk sampai produksi di 2017 sebesar 12,27 KL tersebut, banyak yang harus dilakukan pertamina sejak 2012-2016," ujarnya.
Diantaranya, kata Karena, merevamping kilang FCC RU - III Plaju dengan menambah produksi gasoline 92 sebanyak 2,3 MBSD.
"Dimana produksi premium dari 11,96 juta KL dapat dikurangi menjadi hanya 10,79 juta KL, sementara pertamax produksinya bisa ditingkatkan menjadi 1,85 juta KL," terang Karen.
Ditambahkannya lagi, pada 2014, di kilang RFCC dan PLBC RU-IV Cilacap nantinya juga akan ditambahkan produksi gasoline 92 sebanyak 52 MDSD, hal yang sama juga akan dilakukan pada 2015 sehingga produksi pertamax pada tahun itu bisa ditingkatkan menjadi 7,66 juta KL dan produksi premium hanya 4,19 juta KL.
"Dan baru pada 2017 Pertamina sudah siap dengan produksi Pertamax sebesar 12,27 juta KL bahkan pada 2018 produksi di kilang Balongan II dan East Java Refinery bisa mencapai 19,99 juta KL pertamax 92," tandas Karen.
(ang/ang)











































