Antisipasi Krisis, Pertamina Sedot Minyak Mentah Lokal

Antisipasi Krisis, Pertamina Sedot Minyak Mentah Lokal

- detikFinance
Minggu, 22 Jan 2012 18:20 WIB
Jakarta - PT Pertamina (Persero) meminta Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) agar bersedia menjual minyak mentah bagian mereka untuk diolah di kilang-kilang Pertamina. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi dari kemungkinan terjadinya krisis minyak jika situasi di Selat Hormuz memanas dan juga untuk menjaga ketahanan energi Indonesia.

"Pertamina ingin mengolah semua minyak mentah dalam negeri dan untuk itu siap memberikan penawaran terbaik bagi KKKS," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun melalui siaran pers yang dikutip detikFinance, Minggu (22/1/2012).

Menurut Harun, penawaran ini merupakan bentuk antisipasi dari kemungkinan terjadinya krisis minyak jika situasi di Selat Hormuz memanas dan juga untuk menjaga ketahanan energi Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menambahkan upaya Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS telah mendapatkan dukungan penuh dari BPMIGAS, tetapi memang saat ini tidak ada regulasi yang mengatur hal ini sehingga masih diperlukan penyempurnaan regulasi agar KKKS mau menjual minyak mentah bagiannya untuk kilang dalam negeri.

"Untuk itu, Pertamina meminta dukungan Pemerintah untuk menyempurnakan regulasi bagi hasil minyak yang memberikan opsi kepada Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS," harapnya.

Harun menyampaikan Pertamina di samping telah mengirimkan surat kepada BP Migas, juga telah mengirimkan surat permintaan pembelian minyak mentah domestik kepada seluruh KKKS yang masih mengekspor minyak mentah bagian mereka. Harga yang ditawarkan melebihi harga pasar.

“Minyak mentah produksi dalam negeri bagian pemerintah yang diolah Pertamina tersebut dibeli dengan harga Indonesian Crude Price yang nilainya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar. Pertamina membayar minyak mentah bagian pemerintah sekitar Rp 600 miliar lebih tinggi dari harga pasar setiap tahunnya,” jelasnya.

Menurut Harun, penyerapan minyak mentah domestik oleh Pertamina selama ini telah terbukti sangat menguntungkan bagi negara. Selain memberikan penerimaan yang lebih tinggi, hal tersebut juga dapat mempertahankan harga minyak mentah Indonesia tetap pada level tinggi dan kompetitif.

Saat ini, lanjutnya, kilang-kilang Pertamina telah mengolah seluruh minyak mentah produksi Pertamina dan bagian pemerintah yaitu sebanyak 534 ribu barel per hari (bph). Selain itu, Pertamina juga membeli langsung bagian KKKS sebanyak 3.500 bph.

"Jumlah ini dirasakan masih jauh dari mencukupi mengingat kapasitas kilang Pertamina yang mencapai satu juta bph," tegasnya.

Harun menyampaikan Pertamina juga berencana menyerap seluruh hasil produksi minyak mentah yang menjadi bagian KKKS yang beroperasi di Indonesia. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor selama ini mencapai sekitar 210 ribu bph.

“Kami ingin menyerap minyak mentah yang selama ini masih diekspor oleh KKKS. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor mencapai 210 ribu bph,” katanya.

Harun menyebutkan minyak mentah yang ingin kita beli tetapi saat ini masih di ekspor KKS adalah jenis Sumatera Light Crude 64 ribu barrel per hari, Duri 81 ribu barrel per hari, Arjuna 4 ribu barrel per hari, Cinta 9 ribu barrel per hari, Widuri 9 ribu barrel per hari, Ataka 6 ribu barrel per hari, Handil 5 ribu barrel per hari, Belida 4 ribu barrel per hari, Geragai 3 ribu barrel per hari, Kaji 8 ribu barrel per hari dan Senipah 30 ribu barrel per hari.

Dia menambahkan Pertamina juga telah menyiapkan peta jalan bagi upaya peningkatan ketahanan BBM nasional dengan rencana upgrading dan juga pembangunan kilang baru hingga 2018.

Beberapa proyek seperti refurbishment Plaju, Kerro Treater Dumai-BLPP, RFCC Cilacap-Program Langit BiruCilacap, Bottom Upgrading BLPP, revamping Dumai dan pembangunan duakilang baru di Balongan, Jawa Barat dan Tuban Jawa Timur, akan meningkatkan produksi BBM nasional dari 40,6 juta KL per tahun saat ini menjadi 66,7 juta KL per tahun pada 2018.

“Proyek-proyek tersebut diharapkan bisa meningkatkan ketahanan BBM nasional danmenekan impor. Akan tetapi, untuk merealisasikan rencana investasitersebut, diperlukan dukungan pemerintah terkaitdengan insentif dan juga alfa (margin dan biaya distribusi) yang memadai sehingga membuat investasi menjadi lebih menarik dan investorlebih bergairah,” pungkasnya.

(nia/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads