Director of Aerostructure PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengatakan, banyak orang meragukan penggalakkan BBG di Indonesia karena minimnya infrastruktur penunjang dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat untuk menyerap teknologi baru BBG ini.
Andi melawan pemikiran ini. Menurutnya penggunaan BBG untuk kendaraan di Indonesia bisa dilakukan secara bertahap. Pasalnya, berkaca dari negara Pakistan yang memiliki kondisi infrastruktur dan pendidikan jauh di bawah Indonesia, justru mereka mampu menggunakan BBG sebagai bahan bakar utamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andi, Pakistan menggunakan BBG jenis CNG karena negara tersebut tidak memiliki ladang minyak, sementara ladang gasnya cukup banyak.
"Pakistan pakai CNG, karena mereka tidak punya minyak tapi lahan gas," ujarnya.
Untuk itu, lanjut Andi, jika pemerintah ataupun anggota DPR mau melakukan studi banding maka tidak perlu jauh ke Eropa, melainkan cukup ke negara Asia seperti Pakistan ini.
"Kalau mau studi banding, nggak usah jauh-jauh, Italia dan lain-lain jangan cukup ke Pakistan," tandasnya.
(nia/dnl)











































