Wamen ESDM: Tidak Menaikan Harga BBM, Tidak Bijaksana

Wamen ESDM: Tidak Menaikan Harga BBM, Tidak Bijaksana

- detikFinance
Jumat, 27 Jan 2012 15:19 WIB
Wamen ESDM: Tidak Menaikan Harga BBM, Tidak Bijaksana
Jakarta - Penerimaan negara dari migas sebagian besar habis untuk membayar subsidi BBM. Karenanya, Wakil Menteri ESDM Widjajono menilai pemerintah tidak bijaksana jika tidak menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sama sekali.

"Tidak menaikkan sama sekali tidak wise, uang habis begitu saja, penerimaan minyak Rp 272 triliun diambil Rp 255 triliun buat subsidi, padahal bisa bikin orang miskin nggak miskin lagi, bisa bikin infrastruktur, bisa bikin apa saja untuk dihargai, kan kalau tidak bisa bikin apa-apa, kita tidak akan dihargai," ujarnya dalam diskusi dengan wartawan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (27/1/2012).

Menurut Widjajono, kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut bisa dilakukan secara bertahap, sambil menunggu kesiapan investor dalam mengembangkan Bahan Bakar Gas (BBG).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bertahap misalkan menjadi Rp 6.500, keuntungannya BBG siap, tidak nunggu pemerintah, kalau ada margin sedikit maka akan mengembangkan BBG," jelasnya.

Sayangnya, untuk melakukan kebijakan kenaikan harga BBM, pemerintah perlu mengajukan APBN-P 2012. Pasalnya, dalam APBN 2012 tidak disebutkan rencana kenaikan tersebut.

"Kalau ikuti UU, harusnya pembatasan, jadinya APBNP. Saya rasa kita tidak bis menentukan sendiri, karena tidak ada seorang pun yang lebih baik dari kita, jadi perlu ditentukan bersama," ujarnya.

Hal senada disampaikan Pengamat Ekonomi Chatib Basri. Menurutnya, selama ini subsidi BBM sekitar 52 persen adalah untuk mobil pribadi. Namun, yang paling besar, lanjutnya, adalah untuk penyelundup.

"Pengguna BBM 52 persen itu adalah mobil pribadi bahkan angkanya jauh lebih besar. Paling besar itu adalah penyelundup. Bisa dilihat di kuartal II 2011, pertumbuhan 6,5 persen tapi konsumsi BBM-nya naik 131 persen. Jadi, larinya kemana, kalau begitu ada pembelian di luar market. Jadi subsidi ini mensubsudi orang kaya dan penyelundup," tegasnya.

Menurut Chatib, memang ada baiknya untuk menaikkan BBM. Caranya bisa 2, yaitu langsung dinaikkan langsung atau secara bertahap.

"Kalau menaikkan langsung, toh demonya sama saja, tapi dampak ekspektasinya tidak lama, kalau gradual, para pengusaha memang tidak akan naikan baran setiap hari, jadi tidak berasa, apalagi kecil-kecil," jelasnya.

Chatib juga menilai dengan dinaikkan harga BBM maka energilain akan berkembang.

"Tidak mungkin mengembangkan biofuel kalau BBMnya masih disubsidi,jadi naikkan saja harganya. Toh SBY, juga tida bisa dipilih lagi sudah 2 kali jabatan, apalagi yang dipikirkan," pungkasnya.

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads