"Saya siap mati, bela rakyat jika ada pihak asing yang berani mengajak saya bekerjasama untuk kepentingan bisnis asing," ujar Wacik, di depan anggota Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (30/1/2012).
Wacik menegaskan, dirinya tidak akan mencari untuk sesaat tapi mengorbankan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyataan Wacik tersebut terlontar mana kala, berulangkali Wakil Ketua Komisi VII, Effendi Simbolon menuding kebijakan pembatasan BBM merupakan 'pesanan' dari pihak asing.
Menurut anggota fraksi PDI-Perjuangan ini, pemerintah tidak pernah terbuka kepada DPR, apakah kebijakan ini merupakan pesanan G-20? IMF atau Bank Dunia?
"Pasalnya ada 3 point mendasar dari pembatasan BBM yang dilakukan pemerintah, yakni mencabut subsidi BBM, peralihan premium ke pertamax dan adanya cash back. Tiga point tersebut terlihat semuanya didesain oleh asing para neolibnya," tutur Effendi.
Dengan mencari peluang dari pembatasan BBM tersebut, yang pada dasarnya dinginkan oleh asing, tidak salah dirinya menuding pembatasan ini ada sangkut pautnya untuk kepentingan asing pula.
"Sementara atas dasar kuota jebol, penghematan BBM harus dilakukan. Tapi apa? Pemerintah sendiri tidak berhemat, ini terlihat dari besaran Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) tahun 2011," tandasnya.
(qom/qom)











































