Malu Bilang BBM Naik, Jero Wacik Pakai Retorika Subsidi Diturunkan

Malu Bilang BBM Naik, Jero Wacik Pakai Retorika Subsidi Diturunkan

- detikFinance
Selasa, 31 Jan 2012 19:45 WIB
Malu Bilang BBM Naik, Jero Wacik Pakai Retorika Subsidi Diturunkan
Jakarta - Belakangan ini opsi kenaikan BBM semakin santer dibahas oleh pemerintah dan DPR. Namun secara tegas, pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM Jero Wacik belum pernah menyebut kenaikan harga BBM.

Mantan menteri pariwisata ini banyak menggunakan kata 'subsidi BBM diturunkan' untuk menggambarkan akan terjadinya kenaikan harga BBM. Bahkan dalam beberapa hari ini, Wacik cukup konsisten memakai istilah tersebut, termasuk kalangan DPR pun menggunakan istilah yang sama.

"Sekarang kan premium itu biaya membuatnya seharga Rp 8.200 dijual dengan harga Rp 4.500, subsidinya Rp 3.700 per liter, jadi kalau sekarang kalian membeli BBM premium itu per liter di subsidi Rp 3.700. Sedang kita kaji apakah bisa subsidi diturunkan apakah Rp 300, apakah Rp 500, apakah Rp 1000 atau Rp 1.500 per liter. Kami diminta oleh DPR melakukan studi menghitung nanti pada saat raker berikutnya, kita sampaikan lagi berapa dapatnya, berapa angkanya kalau menurunkan subsidi seperti itu," kata Wacik di Istana Negara, Jakarta, Selasa (31/1/2012)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bandingkan dengan pernyataanya yang kurang lebih sama saat ia rapat dengan Komisi VII DPR-RI Senin (30/1/2012). Pernyataanya sangat konsisten menyebutkan hal yang sama.

"Seperti yang kita ketahui, BBM premium yang diproduksi saat ini dihargai Rp 8.200/liter (nilai keekonomian) dan dijual Rp 4.500/liter. Jadi tiap 1 liter premium disubsidi pemerintah Rp 3.700/liter. Nah nanti apakah subsidinya kita turunkan Rp 500, Rp 1.000 atau Rp 1.500/liternya, itu masih kita bahas, itu masih opsi-opsi yang belum final putusannya," katanya dalam rapat itu.

Wacik menegaskan kebijakan apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam hal BBM harus mempermudah rakyat. Ia pun sangat realistis meski penggunaan gas sangat murah, namun memerlukan persiapan yang lama sehinga opsi pembatasan bisa bergeser pada opsi kenaikan BBM.

"Tanggal 1 April kan sudah dekat sekali kalau tidak persiapanya akan kalang kabut sepeti persiapan BBG, SPBG itu tidak bisa cepat, converter kit juga tidak bisa cepat. Makanya kemarin kita ubah semua di DPR seperti Malaysia misalnya, 17 tahun dia baru selesai urusan gas. Padahal negaranya cuma seuplik itu. Apalagi negara kita sebesar ini. Kan tidak bisa buru-buru. Karena itu maka ada opsi lain yang diminta oleh DPR kepada saya utk mulai dihitung opsi lain itu adalah subsidinya diturunkan," katanya,

Sebelumnya anggota Komisi XI DPR Satya W. Yudha mengatakan, dalam rapat dengan pemerintah, ada 3 hal yang dibahas Menteri ESDM Jero Wacik dengan Komisi VII DPR. Konversi BBM ke BBG, lalu pembatasan konsumsi BBM subsidi, dan terakhir adalah kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 500-1.500 per liter.

"Perpindahan BBM ke BBG kompleksitasnya tinggi, sementara mengganti premium ke pertamax (pembatasan BBM subsidi) itu bakal menggugat keadilan. Pemerintah sadar tingkat kesulitannya tinggi. Jadi muncullah wacana ketiga yaitu mengurangi beban (subsidi) harga premium atau artinya menaikkan harga premium," tutur Satya kepada detikFinance.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads