Demikian disampaikan Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo dalam acara The 2nd Indonesia-US Energy Investment Roundtable di Jakarta, Senin (6/1/2012).
"Road map unconventional gas sudah kita lakukan sejak 2003, Coal Bed Methane (CBM). Sampai berjalannya project. Untuk shale gas, memang rencananya 2011, tapi agak mundur sedikit 2012," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, investor yang tertarik ini akan bekerjasama dengan perguruan tinggi seperti ITB, UGM, UPN, Universitas Trisakti, dan Universitas Padjajaran. Pada shale gas, proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi gas membutuhkan waktu sekitar 5 tahun.
"Hari ini kita akan tukar-menukar informasi. Mulai dari harga, lingkungan. Kita terbuka, shale gas, tied gas, CBM. Bisa cepet, bisa lama," tuturnya.
Sebelumnya sudah telah ada 10 investor mengincar investasi shale gas di Indonesia. Sebanyak 10 investor ini akan bekerjasama dengan 5 perguruan tinggi yang telah ditunjuk pemerintah yaitu ITB, UGM, UPN, Universitas Trisakti, dan Universitas Padjajaran.
Shale gas adalah gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi gas membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Pemerintah saat ini tengah menyusun aturan hukum pengembangan shale gas.
Berdasarkan hasil identifikasi pemerintah, saat ini terdapat 7 cekungan di Indonesia yang mengandung shale gas dan 1 berbentuk klasafet formation. Cekungan terbanyak berada di Sumatera yaitu berjumlah 3 cekungan, seperti Baong Shale, Telisa Shale, dan Gumai Shale. Sedangkan di Pulau Jawa dan Kalimantan, shale gas masing-masing berada di 2 cekungan. Di Papua, berbentuk klasafet formation.
(wep/hen)











































