"Jika embargo minyak Iran berlangsung lama atau pada kasus pergerakan militer tentang penutupan Terusan Hormuz, harga minyak bisa melonjak sekitar US$ 150-160 per barel," ujar anggota Dewan Korporasi Perminyakan Kuwait, Ali al-Hajeri kepada harian Al-Seyassah, seperti dikutip dari AFP, Senin (6/2/2012).
Hajeri menambahkan, harga tersebut tidak akan bertahan lama dan kembali ke level normal jika alasan kenaikan itu sudah hilang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hajeri juga menilai harga minyak di kisaran US$ 100-105 per barel pada saat ini adalah fair dan bisa diterima baik untuk produsen ataupun konsumen. Dan harga yang lebih tinggi, nantinya bisa kontraproduktif terhadap perekonomian global.
Pada perdagangan Senin di Asia, harga minyak mentah dunia turun tipis menyusul tak kunjung selesainya masalah krisis utang di Yunani. Hal itu mengimbangi sentimen gangguan suplai di Timur Tengah dan Afrika.
Kontrak utama New York untuk minyak West Texas Intermediate pengiriman Maret tercatat turun 54 sen menjadi US$ 97,30 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Maret turun 4 sen menjadi US$ 114,54.
(qom/dnl)











































