Pembangunan Terminal Gas Terapung Telat Bikin PLN Boros

Pembangunan Terminal Gas Terapung Telat Bikin PLN Boros

- detikFinance
Rabu, 08 Feb 2012 16:46 WIB
Pembangunan Terminal Gas Terapung Telat Bikin PLN Boros
Jakarta - Realisasi penyelesaian terminal gas terapung atau floating storage regasification unit (FSRU) yang telat membuat PT PLN (Persero) masih boros menggunakan sumber energi. Padahal beroperasinya FSRU bisa menekan penggunaan bahan bakar minyak dan memperbanyak penggunaan gas untuk pembangkit PLN.

Menurut Direktur Utama PT PLN Nur Pamudji terlambatnya realisasi proyek FSRU di Muara Karang, Jakarta mengubah semua rencana dari alokasi penggunaan energi primer PLN pada tahun ini. Penggunaan gas lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM) yang setiap saat bisa naik karena fluktuatif.

"Saat kita menyusun rencana kerja 2011, proyek FSRU yang diusulkan pada September 2010 dan ternyata masuk dalam rencana kerja, tetapi realisasinya baru 6 (enam) bulan kemudian, kondisi inilah yang membuat pembangkit kita di Muara Karang dan Tanjung Priok masih menggunakan BBM," ungkap Nur Pamudji disela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Rabu (8/2/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data PLN, realisasi produksi tenaga listrik PLN mencapai 182,6 TWh pada 2011, dari jumlah produksi tersebut, sekitar 41,9 TWh masih diproduksi menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal target produksi listrik dengan BBM hanya 32,9 TWh atau melonjak mencapai 128%.

Menurutnya dengan adanya FSRU tersebut, seharusnya ada tambahan 200 BBTUD (gas) tetapi proyeknya terhambat, jadi PLN masih menggunakan BBM untuk produksi gas. Dengan tertundanya FSRU, makanya kita masih gunakan BBM dipembangkit Muara Karang dan Priok, makanya penggunaan BBM-nya gemuk mencapai 128%," kata Pamuji.

Sementara, penggunaan Air untuk produksi listrik di PLN dan IPP (Independent Power Producer) realisasinya mencapai 12,4 TWh, gas alam realisasinya pencapaiannya 99%, batubara realisasinya sebesar 80,5 TWh dengan pencapaian 86% serta panas bumi + LL sebesar 9,5 TWh dengan pencapaian 103%.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads