Menurutnya, pemerintah saat ini lebih rencana tapi untuk eksekusinya lemah. Karena itu Marzuki menyindir soal banyaknya ahli di Indonesia tapi cuma ahli di forum seminar.
"Gas bisa jadi sumber energi yang murah, itu kalau kita berpikir jangka panjang. Kalau tidak, kita berhadapan yang begini terus (lonjakan subsidi BBM). Sayangnya, ahli itu hanya di forum seminar tapi tidak ahli dalam eksekusi, padahal bisa dilakukan yang paling enak untuk masyarakat dan paling mudah dilakukan pemerintah," sindir Marzuki dalam Diskusi ILUNI UI bertajuk 'Mengkaji Alternatif Kebijakan BBM: Tambah Subsidi, Pembatasan atau Kenaikan Harga' di Gedung UI Salemba, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi, Marzuki menyatakan kebijakan tersebut tidak bisa disebut sebagai larangan penggunaan BBM subsidi, namun pemaksaan kepada masyarakat untuk membeli BBM dengan harga mahal.
"Pembatasan bukan tidak boleh pakai, tapi dipaksa menggunakan energi yang lebih mahal," jelas Marzuki.
Menurut Marzuki, kebijakan terkait BBM bersubsidi harus ditentukan segera, mengingat harga minyak internasional sudah semakin tinggi dan kondisi dunia masih 'memanas'.
"Kalau Iran menutup Hormus itu dampaknya luar biasa untuk dunia, kalau kita tidak melakukan tindakan strategis maka kita akan dihadapkan pada persoalan yang sama terus-menerus," ujarnya.
(nia/dnl)











































