"Pertamina tidak ada usaha dapat minyak murah, tidak ada usaha, ada pembiaran," ujarnya dalam Diskusi ILUNI UI bertajuk "Mengkaji Alternatif Kebijakan BBM: Tambah Subsidi, Pembatasan atau Kenaikan Harga", UI Salemba, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Hal senada juga disampaikan Mantan Kepala Ban Pengatur Hilir (BPH Migas) Tubagus Haryono. Dia mengungkapkan adanya mafia impor minyak di perusahaan plat merah tersebut yang menyebabkan Pertamina doyan impor BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Centre for Indonesian Mining and Resources Law Ryad Areshman Chairil menyebutkan Pertamina melakukan ekspor minyak sebanyak
900 ribu barel per day karena tidak cocoknya dengan kilang Pertamina, sementara mengimpor 1,4 juta barel per day impor minyak yang cocok dengan kilangnya.
"Itu untungnya bisa US$ 3-5 dulu," ungkapnya.
Sebelumnya pihak Pertamina menyatakan berhasil melakukan efisiensi impor bensin jenis premium dan solar senilai US$ 283 juta atau Rp 2,6 triliun sepanjang 2011.
Nilai penghematan tersebut dilakukan karena perusahaan berhasil memperkirakan harga secara baik sehingga realisasi harga pembelian berada di bawah harga pasar. Pertamina melakukan pembelian secara kontrak pada periode 2 bulan sebelum pengiriman.
"Dengan kondisi fluktuasi harga saat ini sebenarnya upaya memprediksi harga secara tepat pada saat pengiriman memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Akan tetapi Pertamina berhasil melakukan hal itu sehingga terjadi efisiensi senilai US$ 283 juta yang artinya Pertamina bisa membeli premium dan solar di bawah harga pasar," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun.
(nia/dnl)











































