"Menurut Hipmi, kenaikan BBM-lah pilihan yang masuk akal. Memang subsidi BBM kita sangat besar yakni mencapai Rp 123 triliun lebih, tapi kondisinya saat ini lebih masuk akal dibandingkan pembatasan BBM," ujar Ketua IV ββBidang energi dan pertambangan (Hipmi) M. Reza Rajasa, dikantor Hipmi di Menara Palma One, Selasa (14/2/2012)
Menurut putra Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ini, program pembatasan BBM yang dilakukan pemerintah sampai saat ini tidak jelas perkembangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait, konversi gas, sampai saat ini perkembangannya belum maksimal, mulai dari persiapan pengadaan converter kit, infrastruktur SPBG-nya. " Dari kementerian ESDM katanya ada 400-500 converter kit jumlahnya kurang, SPBG? Kita baru punya 19 SPBG, tapi yang aktif cuma 10 SPBG," ujarnya.
Menurut Reza, pilihan konversi adalah pilihan bagus, tapi pemerintah terkesan ragu-ragu dan lamban. "Jadi pilihan yang masuk akal ya kenaikan harga BBM, namun berapa besar harga kenaikannya, kita masih harus diskusikan," ujarnya.
"Tapi Ketua umum Hipmi, sudah sejak lama mengsosialisasikan kenaikan harga adalah pilihan yang tepat. Dan memang kenaikan harga BBM harus dilakukan lewat APBN-P 2012. Tapi itu bukan domain kami, itu wilayahnya DPR dan Pemerintah," tandas Direktur PT Arthindo Utama ini.
(hen/hen)











































