Presiden Direktur Petral Nawazier menjelaskan, proses tender tersebut melalui beberapa tahap. Pertama, adanya permintaan impor dari perusahaan induknya yaitu PT Pertamina (persero).
"Jadi kalau ada permintaan dari Pertamina untuk impor BBM atau crude, baru kita membuka tender. Berapa jumlahnya, mereka yang menentukan," ujarnya saat menutup proses tender pengadaan minyak mentah yang diikuti oleh 55 perusahaan terdaftar di kantor Petral, Singapura, Kamis (23/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk tender minyak mentah ini misalnya, kita mengirimkan email kepada 53 rekanan kita baik yang aktif maupun nonaktif, yang memiliki spesifikasi impor untuk crude. Tapi ada juga perusahaan yang bisa impor produk dan crude," paparnya.
Kemudian, sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, tambah Nawazier, para rekanan tersebut memberikan tanggapannya atas tawaran tersebut. Tanggapan tersebut menyertakan berapa besar harga dan kemampuan impor mereka.
"Pembukaan tender dan penutupan itu batas waktunya tidak terlalu lama. Untuk yang ini sekitar 2 hari. Jadi 2 hari kita kirim surat, kemudian hari ini mereka membalasnya," ucapnya.
Setelah semua tanggapan tersebut terkumpul, maka pihak Petral memasukkan semua data rekanan dalam sistem komputerisasi. Lalu data tersebut diserahkan kepada pihak Pertamina, untuk ditentukan rekanan mana saja yang sesuai dengan standard yang ditetapkan Pertamina. Data yang diserahkan kepada Pertamina ini, tidak memperlihatkan nama peserta tender, melainkan hanya data-data penawaran peserta.
"Jadi pihak Pertamina tidak tahu siapa yang ikut karena namanya di-hidden. Lalu dia masukkan data-data tersebut dalam standarnya, nanti diketahui siapa saja peserta tender yang memenuhi standard. Yang jelas, harga yang ditawarkan tidak boleh di atas Harga Perkiraan Sendiri (HPS)," ujarnya.
Setelah ditentukan siapa pemenang tender, tambah Nawazier, pihak Pertamina menyerahkan urusan pembelian kembali kepada pihak Petral.
"Jadi nanti dikembalikan lagi ke kita, supaya kita bisa sesuaikan (menawar) lagi harganya," ujarnya.
Nawazier menegaskan guna mencegah praktik mafia tersebut, perusahaannya hanya melakukan tender dengan perusahaan yang sudah ada dalam daftar.
"Perusahaan-perusahaan di listed kita ini perusahaan besar yang sudah masuk dalam kriteria risk management. Jadi tidak mungkin ada mafia, dan mereka pun juga tidak mungkin mau bermain-main dengan praktik tersebut," tegasnya.
Nawazier menambahkan pihaknya akan menindak tegas rekanan yang melakukan wanprestasi.
"Jadi kalau ada yang default, kalau telat mengirim atau tidak mengirim, wanprestasi, kita akan coret dia dalam list kita," pungkasnya.
(nia/ang)











































