"Keputusan ini (menaikan harga BBM) bukan terlambat, bukan juga kami ragu-ragu, tapi kita sama-sama berhati-hati mengambil keputusan agar rakyat mendapat solusi yang terbaik diantara pilihan-pilihan yang banyak, berat hati kami mengambil keputusan menaikan harga," ujarn Jero Wacik, dalam rapat kerja dengan komisi VII DPR, selasa (28/2/2012).
Namun bergejolaknya harga minyak dunia ini yang menjadi salah satu alasannya untuk mengajukan opsi kenaikan BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jero Wacik juga mengungkapkan dalam APBN 2011 saja ICP ditetapkan US 80/barel namun realisasinya US$ 109,94.
"Sementara 2012 ditetapkan ICP US$ 90/barel sementara realisasi ICP pada Januari 2012 mencapai US$ 115,91/barel, Desember-Februari US$ 116,12 dan saat ini sudah mencapai US$ 121,75/barel," tambahnya.
Sebelumnya, disampaikan Jero Wacik dalam rapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/2/2012).
"Ada 2 opsi, pertama kenaikan harga jual eceran premium dan solar sebesar Rp 1.500 per liter," tegas Jero Wacik.
Selain itu, opsi keduanya adalah memberikan subsidi secara konstan atau tetap Rp 2.000 per liter untuk bensin premium dan solar. Jadi jika ada lonjakan harga, subsidi tak berubah dan yang berubah hanya harga jualnya.
(rrd/dru)











































