Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM Jero Wacik dalam seminar 'Tinjauan Kebijakan Subsidi BBM' di kantor DPP Demokrat di Jakarta, Rabu (29/2/2012).
"Harga minyak US$ 100 per barel waktu Desember. Jadi waktu itu sudah tertekan APBN. Dulu sudah ada pikiran untuk menyesuaikan harga premium. Tapi Bapak Presiden minta para menteri untuk cari jalan lain dan jangan gampang naikkan BBM," tutur Jero.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dibilang kenaikan BBM mudah, itu keputusan yang berat karena Presiden begitu cinta pada rakyat," jelas Jero.
Apabila harga BBM tidak naik, kata Jero, maka anggaran negara bakal makin berat dan rakyat ujung-ujungnya yang akan kena.
Saat ini Jero mengatakan, fokus pemerintah adalah membangun rakyat, sheingga rakyat menikmati tumbuhnya ekonomi. "Saya 7 tahun jadi Menbudpar menyatakan tidak ada gunanya turis banyak kalau rakyat tidak dapat. Sekarang saya menteri ESDM, nggak ada gunanya batubara melimpah kalau rakyat sekitarnya tidak dapat," kata Jero.
Diakui Jero, pemerintah telah mengusulkan ke DPR aga harga bensin premium dan solar naik menjadi Rp 6.000 per liter atau berarti naik Rp 1.500 per liter.
"Pemerintah ingin kalau suatu saat kantong kita mengempes, maka jangan kantong kempes itu disulitkan pada rakyat saja. Pemerintah harus menanggung. Menteri harus mengalah sama rakyat, APBN saya sudah dipotongin dan saya ikhlas, kalau nggak ikhlas nanti diberhentikan sama presiden," ungkap Jero.
(dnl/dru)











































