"Tidak ada usaha yang konkret dari pemerintah dalam rangka penggunaan angkutan umum. Awalnya kenaikan BBM jadi solusi transportasi umum. Namun kita tidak pernah dengar pejabat pemerintah membahas. Padahal perbaikan angkutan umum itu satu paket," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, saat berbincang dengan detikFinance, Senin (12/3/2012).
Peningkatan pelayanan umum yang terabaikan semakin terasa, saat ada penolakan kenaikan tarif angkutan umum. "Ini menjadi problem yang besar. Dugaan penimbunan karena ketidaktersediaan transportasi umum," tegasnya.
Hingga kini argumen kenaikan BBM yang disampaikan pemerintah ke publik, berbasis sektoral. Bahwa terjadi penghematan anggaran saat kenaikan BBM April nanti. Padahal jika ditelaah mendalam, kebijakan ini akan netral di mata masyarakat.
"Saat harga naik, konsumsi BBM akan turun sementara. Namun tetap saja (masyarakat) akan belum BBM meski pilihannya jadi (BBM) yang tidak bersubsidi. Dampak terbesarnya adalah peningkatan kemampuan fiskal, tapi di sisi lain ada peningkatan belanja masyarakat. Hingga secara nasional satu dirugikan dan satunya diuntungkan," tuturnya.
"Ini bagian dari momentum. Kita kehilangan momen ini, dan kalau tidak dilakukan (perbaikan transportasi umum) tidak mensejahterakan," ucapnya.
(wep/ang)











































