Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Anggito Abimanyu di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/3/2012).
"Kalau kenaikannya Rp 1.500 itu signifikan pengaruhnya (ke ekonomi). Kalau saya setujunya kenaikan hanya Rp 1.000 saja. Karena kenaikan harga BBM bukan ditujukan untuk menambah bolongnya APBN," jelas Anggito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Anggito, kenaikan harga BBM subsidi ini hanya akan mempengaruhi ekonomi pada satu kuartal saja atau dalam waktu tiga bulan.
"Jika BBM naik Rp 1.500 maka inflasi naik 2%, kalau naik Rp 1.000 maka inflasi naik di bawah 2%. Ini hanya akan berpengaruh dalam 1 kuartal atau 3 bulan," tegas Anggito
Soal bantuan langsung tunai (BLT), Anggito juga mengatakan cukup Rp 100 ribu per bulan. Karena penambahan orang miskin tidak akan besar seperti saat kenaikan BBM terakhir yang bakal memukul masyarakat miskin akibat masih banyaknya pengguna minyak tanah.
"Jadi BLT menurut saya cukup 100 ribu karena tidak ada lagi pengguna minyak tanah," imbuh Anggito.
Dikatakan Anggito, Indonesia sangat tergantung pada harga minyak internasional karena Indonesia merupakan pengimpor BBM.
"Kita mengimpor BBM karena kesalahan zaman dulu, kita mengimpor BBM dan itu yang dinaikkan, karena ada pos pendapatan yang bermasalah," tuturnya.
(dnl/hen)











































