Meskipun sudah memangkas target produksi minyak, namun target lifting 930 ribu Bph pemerintah tersebut dianggap tidak realistis dan dianggap pemerintah memakai wangsit menetapkan target lifting tersebut.
"Saya cari berbagai dasar teori pengajuan pemerintah menargetkan lifting minyak 930.000 Bph. Siapa yang membisiki pemerintah sehingga ada angka 930.000, sementara realisasinya selama ini produksi minyak dibawah 900 ribu," kata Anggota Komisi VII DPR, Dewi Ariyani, pada Rapat Kerja dengan Menteri ESDM, Selasa (13/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kayaknya pemerintah pakai wangsit, karena kenyataanya produksi minyak tidak ada yang mencapai target bahkan dibawah 900 ribu Bph, ini kok ditetapkan target 930 ribu Bph," ujarnya.
Bahkan menurut Dewi, pemerintah sendiri tidak paham bahkan pura-pura tidak paham apa arti energy security. "Dan saya yakin pemerintah tidak tahu, pasalnya selama ini implementasinya nol. Pasalnya kesiapan atau terjaminnya pasokan energi harus tersedia dengan baik untuk kelangsungan ekonomi negara, ini tidak dilakukan," ucap Dewi.
Seperti diketahui pemerintah telah mengajukan perubahan target lifting minyak dari 950.000 bph diubah menjadi 930.000 bph.
"Asumsi makro kita, target lifting minyak diajukan 930.000 bph. Sedangkan Indonesian crude price (ICP) diajukan US$105 per barel dimana sebelumnya ditetapkan US$ 90 per barel," kata Menteri ESDM, Jero Wacik.
Sementara, kuota BBM bersubsidi dalam RAPBN-P tetap 40 juta KL, namun Jero mengharapkan tidak ada yang dibintangi seperti pada APBN 2012 yakni 40 juta KL namun 2,5 juta KL ditunggu pada APBN-P.
(rrd/hen)











































