Seperti diungkapkan Direktur Pengendalian Produksi BP Migas Rudi Rubiandini, sumur-sumur minyak di Sumatera Selatan tiap hari minyak mentahnya dicuri.
"Sedikit sih yang dicuri antara 3-5 barel atau sekitar 3-4 drum, tapi yang mencuri banyak, ratusan dan itu terjadi setiap hari," kata Rudi kepada detikFinance di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu total, jadi dari ratusan kejadian, dihitung-hitung ya kira-kira sekitar itu. Namun kami masih meminta laporan kepada KKKS berapa jumlahnya, tapi diperkirakan jauh lebih besar," kata Rudi lagi.
Diungkapkannya, praktik pencurian ini sudah berlangsung sejak lama, modusnya antara lain menempelkan pipi minyak dari offshore dan menyalurkan minyak mentah yang keluar ke 'dapur' si pencuri.
"Jadi pipa minyak KKKS seperti Pertamina EP, dimaping atau seperti ditempel terus dibolongin, tapi tidak bocor, nah minyak yang keluar lalu disalurkan ke dapur atau ke mana oleh pencuri," ungkap Rudi.
Katanya, hasil curian tersebut lalu diolah sendiri dan hasilnya dijual di pinggir jalan. "Mereka olah sendiri minyak yang berhasil dikumpulkan, seperti bensin dan dijual lah di pinggir jalan tetapi oktannya tidak seperti yang dijual di Pertamina, kualitasnya lebih rendah," ujar Rudi.
Menindak lanjuti laporan KKKS ini, BP Migas kata Rudi sudah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian, dan saat ini kepolisian sedang melakukan investigasi.
"Tapi cukup sulit juga menindaknya, masalahnya kompleks sekali, karena pengeboran minyak secara tradisional di Sumatera sudah berlangsung selama 100 tahun lebih, dan banyak masyarakat di sana yang mengolah sendiri sumur-sumur tua. Dan kami yang baru datang, melakukan pengeboran, minyaknya dianggap milik mereka juga, milik nenek moyang mereka juga, jadi mereka anggap tidak apa-apa kalau berbagi sedikit," jelasnya.
(rrd/dnl)











































