"Menurut saya, kenaikan TTL (tarif tenaga listrik) lebih penting daripada BBM karena tidak pernah dinaikkan 2004, subsidi mendekati Rp 100 triliun," ujar Pengamat Ekonomi dari UGM Anggito Abimanyu saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (20/3/2012).
Selain itu, Anggito menyatakan PLN tidak disiplin dengan rencana APBN dan akurasi perhitungan buruk karena rencana bauran energi jauh dari kenyataan, serta Program 10 ribu MW batubara dan geothermal tertunda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Anggito menyatakan masalah listrik yang utama bukan TDL, melainkan tingginya Biaya Pokok Produksi (BPP). Hal ini disebabkan kurangnya pasokan gas dan batubara terbatas digantikan dengan BBM untuk pembangkit.
"Jadi kenaikan TDL dibutuhkan namun yang lebih penting adalah penyediaan gas dan batubara," jelas calon Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut Anggito, padahal kenaikan untuk TDL ini dampaknya tidak terlalu besar dibandingkan BBM.
"Kalau dimatiin ruangan kan masih bisa bergerak, tapi kalau kendaraan tidak diberikan BBM, itu mobil berhenti, dan pengaruhnya ke bahan pokok," pungkasnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 1.500 per liter mulai April 2012. Sementara TDL batal naik karena tidak disetujui oleh seluruh partai di DPR.
(nia/dnl)











































