Diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Bambang Brodjonegoro, pada Maret 2012 harga minyak (Indonesia Crude Price/ICP) sudah melewati 32,2% dari yang ditetapkan dalam APBN 2012 yakni US$ 90 per barel.
"Kita bisa lihat pada bulan Maret ini, harga solar keekonomian tembus Rp 9.390 per liter, pertamax Rp 9.200 per liter, dan premium harga keekonomian Rp 9.018 per liter," kata Bambang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Subsidinya sudah sangat besar sekali, lebih dari Rp 4.500 per liter, sementara harga yang dijual dan dipatok untuk BBM subsidi tetap Rp 4.500 per liter. Tentunya ini tidak baik bagi anggaran negara kita, makanya perlu ada penyesuaian harga," kata Bambang.
Selain itu, kata Bambang, kekhawatiran pemerintah lagi dengan jauhnya disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi akan ada peralihan dari masyarakat yang awalnya menggunakan BBM non subsidi beralih ke BBM subsidi.
"Premium Rp 4.500 berbanding (pertamax) Rp 9.300 terlampau jauh. Jika masyarakat yang biasa pakai pertamax mereka akan lari ke premium, artinya BBM subsidi makin tidak tepat sasaran karena dinikmati oleh golongan mampu," jelasnya.
Bahkan dirinya yakin, apabila tidak ada kebijakan salah satunya menaikkan harga BBM Rp 1.500 per liter maka dirinya yakin kuota BBM bersubsidi yang yang ditetapkan 40 juta kiloliter (KL) dalam APBN, akan tembus hingga 40 juta KL.
"Dan defisit anggran bisa melonjak hingga Rp 299 triliun atau 3,59% terhadap PDB. Seperti kita ketahui defisit anggaran yang besar seperti terjadi di negara-negara eropa seperti Yunani menjadi awal kebangkrutan negara," tandasnya.
(rrd/dnl)











































