"Ini sosialisasi, ini kan disebut, ada gambar (cover buku), orang yang pakai Alphard pakai Premium ingin disubsidi juga," ujar Wacik saat ditemui di DPR RI, Jakarta, Senin (26/3/2012).
Menurut Wacik, hampir 77% masyarakat golongan ke atas masih menggunakan BBM bersubsidi. Sementara sisanya adalah golongan kelas bawah yang justru seharusnya lebih berhak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada yang menarik dalam buku sosialisasi tersebut, di antaranya muncul beberapa karikatur sindiran soal penyimpangan penggunaan BBM subsidi.
Dalam sampul depan jelas-jelas terlihat ada karikatur yang menggambarkan bagaimana orang kaya yang mengendarai mobil mewah'mirip'Toyota Alphard Vellfire yang kalau harga barunya, mobil ini bisa mendekati Rp 1 miliar. Ternyata orang itu membeli BBM subsidi berjenis premium.
"Hei Mas!! tolong isi premium full tank ya!!" jelas sosok orang kaya pengendara Alphard dalam karikatur tersebut.
Di sisi lain ada seorang ibu-ibu yang terlihat menggerutu melihat ulah orang kaya dalam karikatur itu, yang tak malu membeli BBM subsidi (premium).
"Waduh..sudah kaya pengen disubsidi juga," kata ibu-ibu seperti tertulis dalam karikatur.
Dalam buku itu mengulas soal alasan pemerintah menaikan harga BBM premium dan solar. Dijelaskan buku itu, saat ini harga minyak mentah Indonesia sudah mencapai US$ 127,17 per barel (rata-rata Februari). Di sisi lain harga minyak mentah yang ditetapkan dalam APBN 2012 hanya US$ 90 per barel.
Selain itu, konsumsi BBM di dalam negeri setiap tahun terus naik misalnya konsumsi premium dan solar naik dari 35,8 juta KL di 2010 menjadi 38,5 juta KL di 2011.
"Akibatnya subsidi untuk solar dan premium sepanjang 2012 akan melonjak dari Rp 123,6 triliun menjadi Rp 191,1 triliun. Jika harga minyak dunia terus naik, subsidi akan menggelembung di luar kemampuan anggaran negara," jelas buku sosialisasi yang sampulnya berwarna coklat tersebut.
Selain itu juga dijelaskan mengenai perbandingan harga BBM premium dan solar di Indonesia dengan negara lain. Intinya dari buku itu, harga BBM (Rp 4.500) di Indonesia paling murah di banding empat negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (Rp 5.753), Thailand (Rp 12.453), Filipina (Rp 12.147), dan Singapura (Rp 15.695).
Dalam buku ini juga dibantah soal pemerintah banyak menerima pendapatan lebih dari lonjakan harga minyak. Namun di sisi lain pengeluaran negara pun akan ikut melonjak.
"Perhitungannya setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel, dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dolar akan menaikkan penerimaan sebesar Rp 3,37 triliun, namun kenaikan US$1 per barel juga meningkatkan pengeluaran negara Rp 4,3 triliun," jelas buku itu.
(nia/hen)











































