"Kita rasakan berat, BBM belum naik tapi belanjaan sudah naik," ujar Titin Suprihatin dari PERSIS asal Bandung dalam acara Sosialisasi Kebijakan BBM di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/3/2012).
Titin juga mempertanyakan mengenai sistem pemberian beras miskin (raskin) yang saat ini terasa tidak tepat sasaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Dewi Motik Pramono yang merupakan pengusaha mengakui, meskipun memiliki suami yang bekerja di Pertamina dan mendukung kenaikan BBM, tetapi dirinya tetap ingin agar tidak terjadi kenaikan. Pasalnya, hal tersebut akan dirasakan berat bagi para ibu.
"Ya mau bagaimanapun ini tetap berat ya ibu-ibu,", ujarnya.
Bahkan Dewi Motik menyesalkan penggunaan bahasa yang dipakai Hatta dalam sosialisasi ke ibu-ibu terlalu berat dan menggunakan bahasa asing yang sulit dimengerti.
"Bapak Hatta tadi menggunakan bahasa asing, saya lihat ke belakang, spertinya sulit dimengerti ibu-ibu, seperti carryover subsidi, endowment fund. Saya sekolah di Amerika mungkin mengerti, tapi nggak semua mengerti 100 persen. Kayak kuliah di kampus semua ngerti, tapi kalau tadi disebut 'bleeding', kita mengertinya itu melahirkan. Kita ada 250 juta tapi yang pintar cuma 1 persen," pungkasnya.
(nia/dnl)











































