Berdasarkan hasil poling yang dilakukan Reuters, 68% masyarakat tidak setuju dengan cara Obama menahan laju kenaikan harga BBM, yang bakal menjadi isu besar dalam pemilu yang akan berlaku November 2012.
Bulan lalu, harga BBM di AS naik US$ 0,3 per galon (1 galon=3,7 liter) menjadi US$ 3,9. Mahalnya harga BBM ini bakal menjadi isu bagi partai Republik untuk menghantam Obama dalam pemilu tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayoritas pendukung, Republik, Demokrat, dan independen menurut survei Retuers ternyata tidak senang dengan cara Obama menangani harga BBM.
Meskipun begitu, masyarakat di AS saat ini menyalahkan perusahaan-perusahaan minyak yang dinilai rakus mengambil untuk dari penjualan BBM. Selain BBM, isu-isu energi juga bakal menjadi faktor penghantam Obama yang telah disiapkan oleh lawan politiknya dalam pemilu nanti.
Namun, para ekonom di AS menyatakan, tingginya harga BBM di AS harus dilakukan untuk mencegah perekonomian AS jatuh ke dalam resesi ekonomi.
Selain di AS, masalah harga BBM juga terjadi di Indonesia. Saat ini pemerintah berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 1.500 menjadi Rp 6.000 per liter. Namun proses politik sedang terjadi di Indonesia, demonstrasi pun saat ini sedang marak terkait rencana kenaikan harga BBM tersebut.
(dnl/ang)











































