Istri Jero Wacik Bantu Suami Kampanye Kenaikan BBM

Istri Jero Wacik Bantu Suami Kampanye Kenaikan BBM

- detikFinance
Rabu, 28 Mar 2012 14:32 WIB
Istri Jero Wacik Bantu Suami Kampanye Kenaikan BBM
Jakarta - Istri Menteri ESDM Jero Wacik, Triesna Wacik ikut bantu suaminya untuk mensosialisasikan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada ibu-ibu di lingkungannya.

"Saya kan lingkup pergaulannya ibu-ibu, bidang kebudayaan, ada grup tari, kerajinan, arisan juga punya, jadi lingkungan itulah saya bisa bicara selain keluarga," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Triesna mengakui memang dampak kenaikan harga BBM ini akan sangat terasa bagi perekonomian rumah tangga khususnya kelas bawah. Namun, di sinilah perlunya peran ibu sebagai agen perubahan dalam rumah tangga untuk memberikan pengertian akan pentingnya kenaikan harga BBM ini bagi perekonomian negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya belajar dari bapak (Jero Wacik), jadi saya kan juga dengan bahasa yang sederhana, yang bisa diterima ibu-ibu, saya terangkan ke ibu-ibu, jadi sebetulnya menyelamatkan perekonomian negara, mengurangi subsidi yang diprediksi sangat tinggi hingga bisa mengambrukan perekonomian negara, namun bukan berarti mengurangi subsidi, ada yang tersisa, subsidi tetap, malah naik dari Rp 123 triliun, jadi Rp 137 triliun sekian, subsidi naik, tapi tidak senaik Rp 170 triliun, jadi itu bahasa saya seperti itu," paparnya.

Menurut Triesna, memang untuk mengubah sesuatu itu bukanlah hal yang mudah. Termasuk untuk mensosialisasikan penggunaan Bahan Bakar Gas pengganti BBM. Dia menilai konversi BBG ke BBM ini sama sulitnya ketika pemerintah menerapkan kebijakan konversi dari minyak tanah ke LPG.

"Memang saat ini beli converter kit, masih tinggi Rp 14 juta, tapi saya bilang ke teman-teman, sama seperti beli handphone deh, dulu waktu baru datang mahal, tapi makin lama makin murah, tetapi untuk kegiatan sehari-hari akan sangat meringankan. Kalau saja semua menyadari, ganti ke gas itu mau, seperti dulu kompor minyak tanah ke gas, takut nanti meledak, semua sudah diperhitungkan, converter kit sudah lewat uji, itu aman-aman saja, kita semua sudah kompor gas tidak masalah. Mengajak ke perubahan itu tidak gampang, mungkin testimoni bisa jadi bahan sosialisasi," jelasnya.

Padahal, lanjut Triesna, keuntungan penggunaan BBG ini sangat meringankan biaya hidup apalagi di tengah harga minyak yang tinggi.

"Ada adik ipar saya sudah gunakan converter kit di mobilnya, dia bilang kerasa banget ya mau ubah dari minyak ke gas, dia bilang, rumah di Bintaro anaknya sekolah di Kebayoran Lama, antar jemput, pengajian, ke supermarket biasanya kalau pakai minyak Rp 100 ribu malam beli, besok malemnya beli lagi, menggunakan converter kit, pake gas Rp 100 ribu bisa sampai tiga hari," tandasnya.

(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads