Jero: Saya Bantah BLT Rp 150 Ribu Bermuatan Politik

Jero: Saya Bantah BLT Rp 150 Ribu Bermuatan Politik

- detikFinance
Kamis, 29 Mar 2012 15:45 WIB
Jero: Saya Bantah BLT Rp 150 Ribu Bermuatan Politik
Jakarta - Pemerintah berencana memberikan bantuan langsung tunai (BLT) Rp 150.000 per bulan selama 9 bulan jika harga BBM subsidi naik jadi Rp 6.000. BLT ini tidak bermuatan politik.

"Dan saya membantah bahwa kompensasi ini ada muatan politiknya. Kompensasi ini semata-mata untuk menjaga daya beli rakyat kita khususnya yang kurang mampu," kata Jero di Jakarta, Rabu (28/3/2012).

BLT ini memang masuk dalam kompensasi ke masyarakat miskin berbentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) Rp 450.000 per bulan, pasca kenaikan harga BBM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri ESDM Jero Wacik berulang-kali mengatakan tujuan presiden menaikkan harga BBM subsidi bukan untuk menyengsarakan rakyat, tapi justru ingin mensejahterakan rakyatnya.

"Percayalah, yakinlah tidak ada satu pun presiden Indonesia yang memutuskan menaikkan harga BBM tujuannya untuk menyengsarakan rakyatnya. Tidak ada itu," kata Jero, di Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Jero menyebutkan, dan tidak ada satupun presiden di Indonesia yang tidak menaikan harga BBM kecuali Presiden BJ Habibie.

"Mulai dari Presiden Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati dan terakhir nanti Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pernah menaikan harga BBM, kecuali BJ Habiebi itu mungkin karena masa jabatannya sebentar," ujar Jero.

Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini juga sangat yakin, walau menaikan harga BBM, Presiden di Indonesia tidak ada yang tidak sayang dengan rakyatnya dan tidak ingin menyengsarakan rakyatnya.

"Saya yakin itu dan saya ingin saudara-saudara yakin akan itu," ujarnya lagi.

Dan, pilihan harus menaikan BBM dipilih juga karena terpaksa. Salah satunya karena naiknya harga minyak dunia.

"Rakyat mungkin ingat, tahun 90-an harga minyak mentah US$ 10-20 per barel waktu itu harga BBM Rp 2.500 per liter. Pada 2005 ICP mencapai US$ 61 BBM dan dinaikan Rp 4.500," ungkapnya.

Kemudian pada tahun 2007 kata Jero, harga minyak tembus US$ 109 per barel, dan harga BBM dinaikkan Rp 6.000 per liter.

"Tapi pada akhir Desember 2008 harga minyak turun, harga BBM lalu diturunkan Rp 5.500 per liter, dan pada awal 2009 harga BBM diturunkan lagi Rp 5.000 dan pada saat harga minyak turun jadi US$ 70, harga BBM diturunkan lagi menjadi Rp 4.500 per liter hingga sampai saat ini," ungkapnya.

Dan sekarang ini harga minyak dunia, kata Jero, sudah mencapai di atas US$ 109 per barel bahkan lebih. Diperkirakan Maret ini akan mencapai US$ 128 per barel.

"Jadi sudah seharusnya harga BBM naik jadi Rp 6.000 per liter," ucapnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads